Note: film yang gue tonton sepanjang masa di rumah ini tidak semua harus sesuai dengan tema karantina dan sejenisnya jadi ini bukan rekomendasi film saat karantina. Selain 2 film terakhir, film-film ini bisa kalian saksikan di Netflix.
The Fault in Our Stars
Gue selalu banget pengen nonton film romantis yang heartwarming seperti film ini, namun selalu gagal karena film ini kalah eksposur dengan film superhero (dan waktu yang sibuk). Film ini cukup romantis dengan chemistry dua insan yang believable banget. Cuma kurang wah gimana gitu seperti halnya film romansa remaja saat ini. Namun lumayan bikin sedih karena mengangkat isu kanker sehingga ketika kita melihat ada yang meninggal pengen nangis gitu. Boleh lah ditonton.
500 Days of Summer
Gue udah 3 kali nonton film ini tapi baru kali ini gue nonton full dari awal. Pembahasan yang paling banyak dipersoalkan soal film ini adalah apakah Summer itu jahat atau Tom-nya yang terlalu berharap banyak. Namun apa yang gue pelajari dari film ini adalah bagaimana kedua tokoh di film ini mendapatkan perspektif baru, terutama Tom. Gue melihat Tom jadi memikirkan ulang pekerjaannya sebagai pembuat caption kartu dan fokus untuk menjadi arsitek hingga memikirkan ulang definisi cinta itu sendiri. Summer yang dulu tidak percaya cinta jadi terbuka pikirannya berkat Tom (walaupun pada akhirnya ia nikah sama cowok lain). Dan itulah definisi singkat dari Manic Pixie Dream Girl. Tapi overall filmnya bagus banget.
Inception
Dari beberapa karya-karya Christopher Nolan yang ada di intenet, gue memilih Inception (di luar trilogi The Dark Knight) selain karena tema film yang gue suka film ini semacam pemanasan sebelum menonton film Tenet (yang sepertinya akan tayang tahun ini). Seperti halnya film Nolan yang lain, film ini cukup membuat gue "mikir" keras tapi secara estetika dan overall cerita bagus banget. Lumayan bikin mindblown. Gue kurang tahu apakah Tenet bakalan 11 12 dengan film ini namun setidaknya ada benang merah yg paling tidak membuat gue bisa menikmati Tenet (Inception tentang sekelompok orang yg bisa mengatur mimpi sedangkan Tenet mungkin bercerita tentang time bending).
Superbad
13 tahun berlalu tidak membuat Superbad terasa usang. Komedinya tidak terlalu berlebihan, merefleksikan anak SMA yang sebenarnya tanpa bumbu-bumbu kegantengan atau kekerenan dan tanpa harus berusaha keras untuk melucu. Namun di sisi lain menunjukkan kegeblekan tingkat maksimal terutama dari Mclovin. Masih menjadi film coming of age terbaik menurut gue.
30 Minutes or Less
Gak tahu kenapa film ini kayak mengajak gue untuk disaksikan. Ceritanya tentang pengantar pizza yang disuruh merampok bank oleh sekelompok penjahat biar penjahatnya gak ketangkep. Biasa aja sih filmnya tapi paling tidak masih dalam tahap okelah. Bagi yang suka film kriminal kayak Baby Driver mungkin masih bisa enjoy walaupun gak se-enjoy nonton film yg itu. Typical film dewasa kelas dua dengan banyak ngomong kasar.
Man of Steel
Gara-gara The Dark Knight sukses jadi banyak film yang jadi grounded, gelap dan realistis. Dan hasilnya banyak yang flop. Man of Steel adalah salah satunya. Namun film ini jeleknya karena Superman tidak seharusnya digambarkan seperti ini. Jika kita tidak memikirkan source material film ini, kita akan merasakan bahwa sebenarnya film ini bagus banget. Gue tahu Superman seharusnya tidak se-gloomy itu tapi masih asik untuk ditonton dan aksinya sebenarnya bagus. Gue merasa Zack Snyder itu sebenarnya sutradara visioner, cuma orang pada gak ngerti dia aja. Semoga Snyder cut bisa dirilis regardless hasil akhirnya seperti apa. Tapi kayaknya lebih menarik dari theatrical cutnya.
T2 Trainspotting
Belum nonton film pertamanya karena di Netflix baru ini aja (atau udah ada tapi dulu). Makanya gue di awal-awal gak ngerti film ini. Tapi masih oke kok. Mungkin jika gue udah nonton yg pertama film ini bakalan fantastis banget. Kayaknya banyak elemen nostalgia yang terpapar di film ini.
Her
Kalo ini gak ada di Netflix ya, ini di Catchplay+ dan bisa dinikmati secara cuma-cuma. Meski gratis tapi ini lumayan menyentuh menurut gue. Bercerita tentang pria penyendiri yang pacaran sama kecerdasan buatan. Meski berhubungan dengan sesuatu yang artifisial namun gue merasakan perasaan yang mendalam bahkan lebih mendalam dibandingkan hubungan antar dua manusia pada umumnya. Kayaknya Joaquin Phoenix emang jago peranin cowok penyendiri yang rada-rada 'aneh' seperti film ini sama Joker. Makanya bisa dapet Oscar.
Jojo Rabbit
Tidak pernah terbayangkan bahwa cerita Nazi bisa dibikin secerah ini. Beberapa orang bilang film ini adalah campuran dari Inglourious Basterds sama Moonrise Kingdom. Wajar saja bisa dapet Oscar tapi sayangnya gak bisa tayang di Indonesia (entah karena Nazi atau film ini semacam glorifikasi umat Yahudi, setahu gue Spielberg bikin film tentang Holocaust dan dilarang tayang disini). Tapi menarik sih melihat film Nazi yang riang banget (biasanya gelap banget) dan meskipun begitu film ini tidak ada tendensi untuk membenarkan Nazi dan menjadi semacam pembalikan fakta tentang kebrutalan partai Jerman satu ini. Kayaknya cuma Taika Waititi yang masang lagu The Beatles di parade Nazi, itu ngehe banget. Oh ya film ini gue tonton di Apple TV.
Udah lah gitu aja nanti bakalan ada part 2 nya apabila masa karantina diperpanjang. Mungkin bakal termasuk beberapa film original Netflix yang menurut gue biasa aja. Pokoknya Stay Home aja ya istirahat makan yang banyak.


Posting Komentar