Mengapa Baru Sekarang Film Superhero Indonesia Dilirik?


Ya, gue tahu kalo Gundala itu berhasil menaklukan rakyat Indonesia. Gue juga merasa film itu walaupun belum sempurna tapi ini semacam improvement untuk perfilman Indonesia. Namun entah mengapa dengan pasar yang cukup potensial film superhero asli Indonesia baru benar-benar diniatkan saat ini. Padahal kita tahu film superhero (saat ini) menjadi primadona untuk meraup uang sebanyak-banyaknya.

Tulisan ini mungkin akan pas jika dirilis di saat hari perfilman Indonesia, namun sayang gue baru kepikiran beberapa hari sesudahnya. Tidak apa-apa. Entah mengapa dengan hype yang bisa dibilang cukup dan teknologi yang oke untuk membuat sebuah film superhero baru sekarang kita menemukan film superhero yang proper. Kita harus puas dengan Jagoan Instan yang absurd abis atau film Bima Satria Garuda yang bikin gue nangis padahal udah kerjasama sama negara orang. Barulah Wiro Sableng dan Gundala (dan jagat sinema Bumilangit) bisa menjawab pertanyaan "Adakah film superhero Indonesia yang bisa dibanggakan?"

Mungkin banyak yang tidak percaya kalau Indonesia pernah membuat film superhero di tahun 1973. Menarik, karena bahkan Superman sekalipun baru memfilmkan dirinya 5 tahun kemundian. Emang dengan keterbatasan sumber daya yang ada membuat film ini terkesan cult banget jika ditonton sekarang. Lalu ada Darna Ajaib, mungkin semacam Wonder Woman gitu kali ya yang tayang di tahun 1980. Lalu ada Gundala Putra Petir, adaptasi komik superhero lokal pertama  yang well khas film Indonesia 80an banget yang bisa dibilang cult juga. Selebihnya tidak ada film superhero Indonesia hingga abad 21 (atau gue yang tidak tahu aja). Bahkan ketenaran Superman sendiri tidak membuat sineas film Indonesia membuat knockbuster/mockbuster (istilah ketika negara berflower "memplagiat" film Hollywood namun dengan kearifan lokal negaranya) film superhero. Kebanyakan mockbuster Indonesia saat itu berfokus pada film action seperti Manusia 6 Juta Dollar, tidak seperti Filipina yang membuat film mockbuster Batman. Baru di era 2010an film superhero mulai ada lagi. Agak susah melacak film superhero lokal mengingat minimnya informasi yang ada. Sekalipun ada yang memiliki publikasi bagus sayangnya dibuat seadanya, seperti Jagoan Instan dan Bima Satria Garuda. Barulah Gundala memulai skena perfilman superhero Indonesia dengan "niat".

Apa yang membuat perkembangan film superhero Indonesia "lambat"? Setidaknya ada 3 poin yang mau gue angkat. Hal pertama yang gue soroti adalah karakter dari superheronya itu sendiri. Apakah mengadaptasi novel atau komik atau membuat sendiri berdasarkan imajinasi? Terlepas dari mana superhero itu berasal sepertinya akan memakan waktu yang lama, beda pada saat dulu dimana orang bisa menyomot superhero asing untuk di-"Indonesia"kan. Apalagi beberapa karakter komik lokal yang masih memiliki elemen-elemen superhero DC atau Marvel. Tarohlah Gundala sebagai contoh. Meski secara asal muasal terinspirasi dari "penangkap petir" di Yogyakarta namun secara penampilan dia "Captain America" banget. Alhasil modifikasi dilakukan agar tidak dituntut beberapa pihak sehingga menghasilkan Gundala yang kita lihat saat ini. Selain itu terdapat perdebatan untuk beberapa "pahlawan lokal" seperti Gatot Kaca, apakah dia harus tampil tradisional atau modern?

Setelah karakter sudah siap tinggal bagaimana karakter ini difilmkan. Siapa target market film ini? Seperti apakah tone filmnya? Apakah dibuat campy atau grounded? Siapa pemainnya? Siapa sutradaranya? Seperti apa ceritanya? Ngikut DC, Marvel atau bikin dengan "kearifan lokal"? Itu baru cerita. Belum lagi dengan kesiapan teknologi, resiko yang lebih besar dari film dengan genre lainnya, respon pasar yang masih 'abu-abu',  atau balik modalnya membuat beberapa rumah produksi masih mikir-mikir untuk mewujudkan film superhero. Setidaknya penghapusan Daftar Negatif Investasi (DNI) untuk perfilman bisa menyelesaikan masalah financing.

Setelah karakter siap, produksi selesai, film ditayangkan dan berhasil/tidak, tinggal menunggu konsistensi saja. Entah membuat sekuel yang bagus atau memastikan genre film ini tetap ada (dan tetap bagus) itu diperlukan biar ekosistem perfilman Indonesia tetap keren. Emang gue melihat bakalan ada "Jagat Sinema Bumilangit" atau "Jagat Satria Dewa", dan bakalan banyak film superhero dengan kearifan lokal. Tinggal menunggu aja apakah bakalan lancar atau tidak, apakah bisa diterima masyarakat atau tidak, dll.

Namun bagusnya 3 hal diatas mungkin bisa teratasi. Dengan semakin majunya ekosistem perfilman Indonesia dan kemajuan teknologi tidak menutup kemungkinan semua itu akan mudah terjalani. Gue melihat seberapa siap Jagat Sinema Bumilangit dan Jagat Satria Dewa, tidak hanya dalam mempopulerkan superhero Indonesia namun juga memberikan "semesta" superhero lokal. Mantap!

Mengapa Baru Sekarang Film Superhero Indonesia Dilirik? Sebenarnya masalah waktu dan keberanian aja. Jika Gundala dan beberapa superhero lainnya berhasil tidak menutup kemungkinan ada pemain-pemain baru dengan karakter yang unik atau bahkan bermain dengan genre yang anti mainstream. Kalau seperti ini maka ekosistem film Indonesia akan semakin berwarna dan bukan tidak mungkin makin banyak orang yang menonton film lokal. Semoga film superhero lokal seperti The Raid dan semacamnya.
Share:

Posting Komentar

Copyright © Hiboorun. Designed by OddThemes