
2020 rasanya menjadi era superhero wanita. Di luar The New Mutants, Morbius dan Venom 2 yang memang bukan 'jualan' utama Marvel, 4 film utama DC atau Marvel saat ini adalah film superhero wanita (Eternals gak bener-bener tentang superhero wanita tapi kemungkinan dipimpin wanita) yang juga disutradarai oleh wanita juga (lebih menariknya lagi 2 diantaranya berdarah Asia). Ini hal yang menarik mengingat industri Hollywood (dan mungkin seluruh dunia) terlalu patriarki. Dan lumayan selaras dengan aksi #MeToo dan gerakan feminisme yg lagi naik (ini bukan contoh yg baik ya).
Birds of Prey (and The Fantabulous Emancipation of One Harley Quinn lebih lengkapnya) adalah awal dari 4 film superhero wanita (dan superhero pada umumnya). Sempat rada skeptis karena DC kayaknya balik lagi ke formulasi crossover karakter DC sebelumnya dan karakter lainnya (ingat Batman vs Superman) dan superhero tim (DC belum pernah berhasil bikin film team up yg bagus, ingat Suicide Squad dan Justice League). Belum lagi beberapa ketidakakuratan dan hal-hal yang mungkin membuat film ini flop, seperti terlalu menonjolkan sosok Harley Quinn. Untungnya film ini R rated alias 17+ sehingga resiko gagalnya gak separah kalo film ini PG13.
Apakah film ini menarik? Seperti biasa film dinulai dengan logo WB. Dan animasi opening DC yg sempat absen di Shazam! dan tentunya Joker balik lagi disini, cuma bedanya di akhir logo Dcnya divandalisasi. Terus ada animasi singkat tentang who is Harley Quinn, dari dia lahir, dituker ama bir sama ayahnya , ketemu Joker (versi animated series) putus dan Harley pun akhirnya lebih bebas. Semua orang bodo amat doi putus ama Joker (tentunya bukan versi Joaquim Phoenix), bahkan sekalipun udah dikasih tau. Akhirnya Harley memutuskan untuk menghancurkan ACE chemical. Dan cerita dimulai. Separuh awal film ini memang agak membosankan sih separuh awalnya (bahkan membingungkan) tapi lumayan worth untuk disaksikan.
Semua wanita punya cerita, rasanya itulah yang mau diceritakan di Birds of Prey ini. Kayak Renee Montoya, detektif GCPD yg terlalu terobsesi sama serial polisi 80an, yang merasa karirnya dizolimi. Ada Black Canary yang merupakan penyanyi di clubnya si Black Mask yang nantinya jadi supir mafia paling ngehe di Gotham City. Ada Huntress juga yg
Birds of Prey mungkin bisa menjadi contoh peleburan aksi yg violence banget dengan keabsurdan ala Scott Pilgrim vs The World. Ini kayak menyelam ke pikirannya Harley gitu. Kayak ketika si Harley ketemu orang yang ia zolimi di masa lalu, terus dikasih tahu nama dan dosanya Harley ke dia apa, agak ngingetin gue ke Scott Pilgrim abis (dan mungkin beberapa film lainnya). Kadang-kadang permainan kameranya juga ngehe sehingga memberikan kesan ngehe juga. Soundtracknya juga singkron banget dengan adegan di film ini, seakan memberikan boost ke adegan tertentu. Apalagi pas adegan Harley nembak orang di GCPD terus keluar serpihan kertas gitu atau pas naik sepatu roda, anjing itu keren banget. Menarik lah film ini (di separuh akhir film).
Jika Wonder Woman lebih terkesan mitologis, Captain Marvel lebih cosmik, Birds of Prey lebih ke femme fatale. Pesan feminisme dan emansipasinya lebih 'frontal' disini tanpa harus membuat film ini feminis banget (jika dibandingkan dengan Captain Marvel). Ditambah dengan outfit para superhero ini yg gak terlalu seksi tapi tetap bisa terlihat atraktif. Ditambah Huntress cantik banget! Lumayan jadi scene stealer dan pemanis sih dia walaupun adegan doi gak banyak-banyak amat. Tapi yg lain juga gak kalah standout yang membuat film ini tidak "Harley Quinnesque"
Film yg bagus kayak gini sayangnya gak sampai 2 jam alias 1 jam 45 menitan. Ini menarik mengingat rata-rata film DC itu durasinya 2 jam lebih. Dan asal kalian tahu, Batman vs Superman itu durasinya 2,5 jam dan orang benar-benar 'tersiksa' selama itu. Tapi gak bikini film ini jadi jelek banget sih masih terasa pas. Mungkin sekuel film ini bakalan lebih lama lagi. Sama rasanya film ini kurang edgy untuk ukuran film R rated, kayaknya cuma main ke banyak-banyakan f-word aja.
Kesimpulannya, meski ini bukan film DC terbaik namun film ini adalah salah satu film yg recommended banget untuk ditonton. Meski film ini R rated tapi gak banyak adegan berdarah-darah khas Deadpool dan film sejenis. Paling ada beberapa adegan yg ngilu kayak pas Black Mask motong muka orang itu gila banget sih. Aman ditonton untuk mereka yg alergi darah-darahan. Rasanya DC udah menemukan jalannya dengan tidak fokus untuk membangun semesata ala Marvel melainkan bikin film yg bagus aja dan gak bisa dibikin Marvel. Tidak perlu menonton Suicide Squad untuk bisa menikmati film ini, paling ada easter egg dari beberapa film atau komik DCnya.
Oh ya gak ada post credit, jadi jangan nunggu sampai habis kalau tidak ingin menyesal.

Posting Komentar