
Gue basically agak skeptis nonton film Asia di bioskop. Bukan gue bilang film Asia (diluar Indonesia) jelek, bagus sih beberapa, tapi rasanya gue lebih senang menonton film asal Jepang, Thailand, Hongkong dll di tv kabel atau streaming atau sukur-sukur ditayangin tv lokal. Kadang-kadang pada zaman SMA beberapa kawan suka memutarkan film asing saat tidak ada guru. Apalagi film Korea memiliki stereotip (menurut gue) cenderung drakor banget atau apalah itu sekalipun bagus atau apalah itu. Bahkan iklan CGV yg masif gue temui di KRL tidak membuat gue pengen banget nonton film Korea.
Hingga akhirnya Parasite datang dan mengubah persepsi orang soal perfilman Korea. Gue saat itu masih skeptis sekalipun jutaan orang bilang film ini masterpiece. Sampai momen 'pecah'nya saat Parasite menang best picture Oscar (
Oke sebelum gue mulai ke cerita gue mungkin kasih keluhan dikit ya. Pas gue nonton di CGV Teraskota (gak tau CGV yg lain) tampilannya gak full screen alias hanya rasio 16:9 dari layarnya yang kepake. Padahal filmnya pake rasio 21:9, harusnya bisa full screen dong. Ini jadi kayak nonton di laptop atau hp kalo tampilannya cuma 16:9. Oke itu aja sih keluhannya. Seperti biasa ada opening logo si pembuat film, lalu nama pemain-pemainnya. Jadi kita dikasih lihat suasana keluarga Kim yg tinggal di apartemen semi basement gitu dengan keadaan yang tidak layak, sampai numpang wifi orang segala. Lalu temennya si anak pria itu kasih kerjaan tutor buat keluarga Park yg kaya raya. Seakan 'tercerahkan' si anak itu yg disini dipanggil Kevin mengajak adik beserta keluarganya untuk bekerja. Sayangnya dengan cara yg licik (namanya juga Parasite).
First impression gue soal film ini, ANJEEEEENGGGG ada aja keluarga kayak gini. Dengan gaya bohong sekelas artis drama, mereka berhasil mendapatkan pekerjaan di rumah keluarga kaya ini. Mungkin plot kayak gini sudah ada di beberapa film lainnya namun tidak banyak yang mengeksekusi semulus ini ("Anyone can steal your idea but no one can steal your execution"). Hampir gak ada cela film ini. Dan entah keluarga Parknya yg gak ngeh atau keluarga Kim yang mainnya cantik, tidak ada kecurigaan sama sekali. Ini adalah pertama kali gue menonton film dark comedy dan gue sangat puas akan hal itu.
It's a litte bit ironic, tapi kejujuran menjadi kunci utama kesuksesan ini. Bong Joon-Ho, selaku sutradara film ini memang pernah jadi tutor di rumah orang kaya. Alhasil film ini jadi terasa natural dan realistis aja. Memang kunci dari karya (tidak hanya film) yang bagus adalah karya yang jujur sehingga menumbuhkan kesan believability oleh para penikmat karya. Selain itu karena beliau juga sering membuat film sejenis ini rasanya membuat film ini jadi lebih solid. Kuncinya kejujuran dan expertise akan genre dan apalah itu akan membuat segala karya akan terlihat keren
Even more surpising, banyak simbolisasi atau subliminal message yang ditaruh di film ini, salah satunya adalah batu gede yg gak dikasih tahu secara eksplisit apa itu. Memang bagian ini terserah intepretasi masing-masing namun seperti halnya film sejenis pasti ada aja hal seperti itu. Dan alurnya juga gak ketebak jadi kita gak bosan menonton film ini. Awalnya mungkin rada dark comedy gitu, lalu makin kesini makin creepy menjurus thriller, ada semacam "azab indosiar" dan sempat happy lagi dan ditutup secara unexpected. Ada karakter yg lumayan surprise di separuh akhir film yg memporak porandakan plot film ini.
Biasanya di paragraf ini gue kasih kelemahan film, namun untuk film ini rasanya tidak memiliki kelemahan yang gimana banget ya. Justru gue memiliki beberapa pertanyaan seputar film ini. Seperti apa yang terjadi sama temannya si Kevin, bagaimana nasib si supir yang dikeluarkan di keluarga Park, nasib keluarga Park pasca ending film, hingga siapa yang membeli rumah itu. Mungkin semua itu akan terjawab di seriesnya yang bakal tayang cepat atau lambat.
Bisa dibilang film ini sangatlah Oscar worthy. Seakan menjadi "parasit" bagi film-film Hollywood yang bisa dikatakan overrated. Bukan tidak mungkin bakalan ada film non bahasa Inggris lainnya yang menang best picture, entah film romcom asal Tajikistan atau action thriller dari Burundi. Film ini juga membuka cakrawala dunia kalo film Korea bisa bertaji tanpa harus terkesan seperti drakor. Salut buat Bong Joon-Ho yang sukses mencetak sejarah film dunia.
Barangkali kalau ada yang ingin mengundang gue ke festival film apa aja bisa kontak di admin@hiboorun.com

Posting Komentar