Rating bisa jadi merupakan sesuatu yang aneh. Ya, panduan menonton film ini seharusnya "membantu" penonton film terutama orang tua untuk memilah mana yang bisa ditonton anak-anak dan tidak. Namun pada kenyataannya keberadaan lembaga-lembaga yang memberikan rating pada film (dan mungkin semua produk-produk hiburan) sendiri patut untuk dipertanyakan kredibilitasnya. Dan masalah ini sebenarnya terjadi di seluruh dunia, baik di negara maju ataupun negara berflower.
Gue gak bakal membahas tentang bagaimana orang tua yang lepas tangan membiarkan atau bahkan mengajak anak-anaknya menonton film yang tidak seharusnya ditonton oleh orang seusianya atau bioskop yang lalai akan masalah ini. Itu masalah beda lagi yang solusinya bisa beragam. Gue lebih mempermasalahkan seberapa benarkah lembaga sensor film memberikan rating film. Apakah tepat memberikan rating tertentu pada suatu film ataukah ada "sesuatu" dibaliknya.
Basically, rating film di Indonesia terdiri dari 4 (menurut Wikipedia): Semua Umur, 13+, 17+ dan 21+. Tidak dijelaskan apakah misalnya film 13+ hanya boleh ditonton oleh mereka yang diatas 13 tahun atau harus ada bimbingan orang tua bagi mereka yang dibawah umur. Sedangkan di Amerika sana rating terdiri dari G (Semua Umur), PG (Bimbingan Orang Tua), PG-13(kurang baik untuk13 tahun kebawah), R (dibawah 17 tahun harus dibimbing orangtua) dan NC-17(dibawah 17 tahun dilarang menonton). Jika dikonversikan. G&PG untuk Semua Umur, Mayoritas film PG-13 untuk 13+, Beberapa film PG-13 dan Mayoritas film R untuk 17+, dan NC-17 dan beberapa film R masuk 21+. Masing-masing negara memiliki jumlah rating dan caranya sendiri, untuk lebih lengkapnya (termasuk tabelnya) bisa dilihat disini.
Salah satu masalah dalam peratingan film adalah seberapa tepatkah rating film ini. Ada beberapa essay/video yang membahas beberapa film yang rasanya mendapat rating yang kurang sesuai, seperti film PG-13 yang terlalu gory atau sadis atau film R yang kurang "berdarah". Ada juga film yang 'tanggung' dimana dia terlalu "nakal" untuk dirate PG-13 tapi terlalu sopan untuk di rate R, dimana tergantung negaranya juga. Semakin banyak jumlah rating semakin tepat juga ratingnya , dengan konsekuensi tiap rating saling sikut dan membingungkan masyarakat. Tahun ini gue nonton Birds of Prey dan gue merasa film ini terlalu 'ramah' untuk dirating 17+/R (mungkin biar bisa ditonton cewek-cewek) namun disisi lain gak bisa masuk PG-13 karena banyak F-word . Mungkin jika ada rating "15+" mungkin akan lebih fleksibel, tapi apakah bakalan kanibal? Apakah bakalan lebih laku jika dirating 15+?
Selain itu masalah keterbukaan juga menyelimuti setiap lembaga sensor dinegara manapun. Di Amerika Serikat memang ada penjelasan mengapa suatu film mendapat rating tertentu, hanya saja minim keterbukaan sehingga beberapa orang mempersoalkan masalah ini. Salah satu korban ketidakadilan rating ini adalah film-film indie. Contoh, ada dua film dengan intensitas kekerasan yang sama, jumlah kata-kata kasar yang sama, tapi karena salah satu film didistribusikan oleh studio mainstream bisa mendapat rating lebih rendah dari film indie. Bahkan jika film independen itu memiliki intensitas kekerasan yang lebih rendah sekalipun tetap tidak bisa mendapat rating serupa dengan film mainstream. Mengapa standarnya bisa berbeda? Apakah ada "sesuatu" dibalik layar?
Masalah lain dari rating film ini sebenarnya lebih ke rumah produksinya sih, yaitu terlalu bergantung pada rating PG-13. Rating ini lahir pada tahun 1984 karena film seperti Gremlins dan Indiana Jones pertama terlalu sadis untuk ukuran rating PG namun "kurang dewasa". PG-13 sendiri adalah solusi untuk film yang cukup intens tapi masih bisa dinikmati remaja 13 tahun keatas. Dan tidaklah mengejutkan jika kebanyakan film yang laku saat ini memiliki rating ini dan sejenisnya. Merupakan hal wajar jika beberapa film yang source materialnya atau film awalnya sadis dipaksa oleh studio mainstream untuk menurunkan tensi sehingga layak diganjar PG-13 agar dapat meraup lebih banyak keuntungan. Alhasil banyak yang kecewa karena film yang mereka ekspektasi intens malah jadi "lenje". Bukannya mencakup lebih banyak demografi malah menghilangkan penggemar setia.
Bagaimana dengan Indonesia? Di Indonesia belum ada yang mempersoalkan masalah rating yang tidak sesuai namun sayangnya di Indonesia tidak dijelaskan kenapa film ini untuk usia tertentu. Padahal tidak semua grup usia bisa nyaman menonton beberapa adegan di film. Tidak banyak masyarakat atau orang tua menuntut lembaga sensor karena film yang kurang layak untuk anak-anak bisa mendapat rating "Semua Umur", kalaupun ada mereka hanya menuntut film yang pada dasarnya memang untuk dewasa. Dan wewenang lembaga ini untuk memotong adegan film juga patut dipertanyakan mengingat orang menonton film 17+ atau 21+ memang menginginkan adegan kekerasan dan seksual dan tentu saja mereka kecewa jika adegan itu dicut. Kalaupun ada seseorang dibawah umur bukanlah salah dari lembaga sensor melainkan dari pribadi masing-masing.
Basically setiap negara punya caranya tersendiri terkait per-rating-an film atau setiap karya. Dan setiap negara juga memiliki isunya masing-masing yang tidak semua bisa gue share disini. Tidak ada benar dan salah dalam rating film karena ini cuma advice saja. Jumlah rating yang banyak memungkinkan rating lebih spesifik tapi belum tentu yang terbaik. Awareness rating di Indonesia dirasa kurang banget karena gak ada yg protes ketika suatu film dirating dengan salah seperti film khusus remaja tapi ada adegan seksnya tapi dirating 13+ atau suatu film yg di Amerika ratingnya PG-13 tapi di Indonesia jadi 17+. Namun yang sebenarnya gue butuhkan adalah suatu informasi mengapa filmnya mendapat rating tertentu. Misal kayak Avengers Endgame ada unsur kekerasannya yang kurang cocok dengan anak-anak. Minimal kasih prefix kayak S untuk seks atau V untuk kekerasan agar penonton bioskop bisa nyaman menonton film. Intinya sih tontonlah sesuai dengan rating dan selera anda sih. Oke.
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)


Posting Komentar