Good Boys yang Juga Pretty Good

Image result for good boys
Gue gak nyangka kalo setelah Pretty Boys ada film yg juga ada 'boys' nya yg tayang beberapa hari setelah film ini (di Indonesia). Ya, jika bukan karena gue ngecek film di gotix, gue gak bakalan tahu film ini. Selain karena judul film yg sama-sama diakhiri dengan boys, film ini juga bergenre komedi nakal, dan bahkan fontnya saja bisa jadi sama persis. Walaupun Good Boys hurufnya kapital semua, dan Pretty Boys huruf kecil semua. Ini membuat gue yg tidak niat nonton di bulan September jadi niat lagi.

Daya tarik film ini adalah tulisan "From the guys who brought you Superbad, Neighbors dan Sausage Party", awalnya gue kaget kok ada anak kecil dan judulnya Good Boys, mungkin bisa jadi ini film petualangan anak gitu. Hingga akhirnya gue menonton trailernya dan seperti film-film yg disebutkan diatas, membuat judul film ini jadi ironis. Apalagi kalo ada nama Seth Rogen (dan Evan Goldberg) entah di produser, sutradara atau penulis naskah, filmnya sudah pasti 'rusak'. Dari This is the End yg merupakan film hari kiamat yg dikemas komedi, atau Sausage Party yg merupakan kartun dewasa PERTAMA yg 3 dimensi. Apalagi ini adalah film dewasa yg melibatkan bocah kelas 6 SD. Untuk mengantisipasi hal yg tidak-tidak, setidaknya di poster ada gimmick "harus tinggi segini buat nonton film ini". Bahkan di Amerika sana rating "R" nya dipajang gede-gede di poster, lengkap dengan tulisan "all involving tweens" dibawahnya. Mungkin belajar dari kasus Sausage Party juga yg pernah dikira film anak-anak (memang di beberapa negara kartun masih dianggap untuk anak-anak).

Apakah bakalan cringe? Film ini diawali dengan scene si Max lagi utak atik karakter pas main game yg sebelumnya diselingi musik yg mengingatkan gue pada Superbad. Hampir terciduk bokapnya, tapi malah ditimpalin "Wah anak papa udh gede ya." Lalu scene-scene selanjutnya pada naik sepeda ke taman gitu. Kayak film anak-anak pada umumnya, sampai ada geng skuter gitu yg ceng-cengin Bean Bag Boys (begitulah mereka disebut). Barulah adegan 'dewasa' itu muncul. Max sama Thor disuruh minum bir sama geng skuter itu. Karena si Thor gak mau minum, doi dijuluki 'sippy cup' yg gue gak tau kenapa dibilang gitu. Selain mereka ada Lucas yg orangtuanya memutuskan untuk cerai dan doi sedih banget tuh. Tapi masalah utamanya adalah saat Max diundang Soren, bocah keren di sekolahnya, (tapi mukanya kucrut gitu)  ke acara yg membuka kesempatan Max untuk mencium Brixlee, cewek yg ia suka. Karena Max gak tau cara ciuman ia bersama Thor dan Lucas mencoba untuk cari tahu dengan cara anak kecil. Dan selanjutnya banyak adegan-adegan yg mereka tak duga.

Gue sendiri sih tidak berekspektasi besar di film ini. Namun yg terjadi malah melebihi apa yg gue pikirin saat gue memandang poster dan trailer film ini. Gue ngakak banget sepanjang film. Bahkan satu ruangan bioskop yg jumlahnya sedikit tetap terdengar tawa yg lebih keras dari saat gue nonton Pretty Boys. Saking ngakaknya gue ampe teriak "Goblok!" di bioskop, gakpapalah namanya juga film dewasa. Sori ya bagi yg nonton film ini sama kru CCTV yg mendengarkan gue mengucapkan kata itu. 

Secara cerita, film ini bukan sekedar "Superbad yg diperankan anak-anak" atau "Reaksi bocah 6 SD ketika melihat mainan seks", tapi juga memiliki adegan yg ngehe banget untuk ukuran film yg diperankan anak-anak. Kelucuannya tidak selalu berasal dari hal-hal yg berbau dewasa atau apalah itu. Kuncinya adalah menggali kepolosan 3 anak Bean Bag Boys ini yg hanya menyebrang jalan tol aja udah lucu, atau bagaimana Lucas terlalu 'polos' dalam bertingkah laku. Sumpah, si Lucas ini bisa bikin lo teriak "Anjeng ada aja anak kayak gini!" Apalagi adegan nyolong bir yg sekilas mengingatkan gue pada film Superbad. Bangsat banget memang. Unsur film anak-anaknya juga dapat blend dengan unsur-unsur dewasanya, seperti komite anti bullying hingga ekskul paduan suara jadi kayak nonton film anak tapi ngomong kasar gitu.

Surprisingly, banyak juga hal-hal tak terduga di film ini. Seperti ajaran untuk menghargai wanita ("I respect women, my mom is my bestfriend"), himbauan untuk tidak pake narkoba untuk lari dari masalah (walaupun ujung-ujungnya beli juga) hingga kisah persahabatan yg mengenyuhkan hati. Ini mungkin gak bakal ditemui di film dewasa lain. Surprisingly juga gak ada adegan syur atau semacamnya, paling cuma ciuman sama mainan seks aja (harus izin dulu), gak lebih. Ngajarin tanggung jawab juga. Dan mbak-mbaknya juga cakep.

Susah cari kelemahan film ini. Kalopun ada paling cuma masalah relate sama karakternya sih, mengingat film ini gak bisa ditonton anak kecil sendirian dan anak kecil disini pun gak bisa relate sama anak sana. Beda sama Superbad yang kita yg 17 tahunan pun masih bisa relate karena kita sendiri bisa nonton. Disisi lain orang dewasapun cuma bisa ngakak, tapi gak bisa relate ke mereka. Ada juga yg mungkin gak tahu referensinya. Mungkin mereka akan bilang "Ini alat apa ya, kok orang pada ketawa?". Ini masalah selera dan referensi sih.

Kesimpulannya, bisa dibilang film ini adalah film dewasa terngehe yg gue tonton di 2019 ini. Bayangin, bocah-bocah ingusan (walaupun ngomong f word juga) melakukan hal-hal 'dewasa' dengan polos. Bisa dibilang film ini adalah film "coming of age" terbaik di dekade ini (kayaknya era ini film coming of age gak terlalu menjual beda sama era 2000an). Berharap film ini tidak masuk radar KPAI (eksploitasi anak untuk hal-hal inappropraite), LSF (karena berbahaya tapi anak, tapi ini lolos sensor sih), BNN (karena ngajarin anak-anak beli narkoba), sama ormas keagamaan. Tentu saja tidak bisa dinikmati anak-anak bahkan remaja SMA sekalipun. Tapi kalo ada orang tua yg ngajak anaknya nonton ini (secara sengaja) berarti orang tua ini sangat badass sekali, ingin mengajarkan sex education dengan cara yg keren. Cocok buat para mahasiswa atau pekerja umur 20an yg ingin melepas penat setelah bekerja. Akan lebih lucu lagi kalo kalian tau referensi alat-alat sex, kalo ngerti bakalan ngakak banget. Hidup bean bag boys!



Share:

Posting Komentar

Copyright © Hiboorun. Designed by OddThemes