
Film superhero berbasis komik, terutama Marvel dan DC saat ini menjadi primadona. Bayangkan saja superhero yg dulunya hanya untuk anak-anak dan 'kartun' banget jadi bisa (kadang-kadang hanya bisa) dinikmati oleh orang dewasa dan lebih realistis. Kebanyakan film ini pasti bergenre action dan pasti ada scene kelahinya. Bosan gak sih dengan pola seperti ini? Setiap film adaptasi komik Marvel DC pasti genre action terus. Hingga Joker datang dengan konsep yang berbeda.
Ya, film Joker ini gak masuk DCEU, yg artinya kreativitas tanpa batas dan tidak terpaku untuk sekuel atau easter egg tertentu, sepenuhnya terserah tim kreatif. Konsepnya juga beda dengan beberapa film sejenis yg berlimpah CGI dan adegan gebuk-gebuk, diharapkan lebih realistis dan lebih dekat ke kita. Apalagi ini film tentang supervillain yg populer saat ini, wajar kalo ratingnya R. Pastinya sudah banyak yg membandingkan Jokernya Phoenix sama Ledger, tapi siapakah yg terbaik? Kabar gembiranya, sebuah bank memberikan promo 21 ribu untuk tiket The Premiere! Tanpa pikir panjang gue langsung beli aja (gak langsung beli juga sih, ngantri dulu dengan nomor antrian sambil menunggu di loungenya yg mewah). Impresinya nyaman sih selonjoran di kursinya yg empuk dan dapat selimut yg wangi. Terus katanya bisa ngorder makan minum langsung diantarkan sama mas/mbaknya, tapi gue gak nyoba yg itu, mahal. Kalo impresi soundnya sih biasa aja ya walaupun gue duduk di pojok dan langsung berhadapan dengan sound system studionya. Cuma menggelegar di momen "All around you" aja. Dan tentu saja nonton di pojokan dan di row ketiga dari depan tidak membuat leher pegal-pegal. Mantap!
Film ini dibuka dengan logo Warner Bros di era 80an. Approach yg mirip dengan Once Upon a Time in Hollywood. Udah gitu aja. Tidak ada logo partner-partner WB, termasuk logo DC itu sendiri membuat film ini terkesan "adaptasi lepas karakter DC" bukan "film DC". Langsung ditawarkan visual ala-ala film 50an meski film ini bersetting di tahun 80an. Dan langsung disodorkan Arthur Fleck yg jadi badut untuk toko yg mau gulung tikar, bertemu anak muda ngehe, dan dipukuli.Setelah adegan itu, dia berkonsultasi ke klinik sosial terkait masalah kejiwaannya. Ia tinggal bersama ibunya yg juga mengidap gangguan jiwa. Ibunya selalu memberikan dukungannya kepada Thomas Wayne yg mau jadi walikota Gotham City.
Memang apa yg dilakukan Joker di film ini tidak bisa ditoleransi. Bahkan tidak dapat dimaafkan. Tapi disisi lain diberikan kondisi seperti justru membuat kita simpatik sama dia. Apalagi dengan gangguan jiwa seperti itu. Kurangnya kasih sayang, kenyataan yg pahit hingga diejek di media massa tentu saja membuat siapapun jengkel bukan. Penonton seakan mengiyakan apa yg terjadi. Walaupun kalo kita liat sih kesannya jadi psycho gitu, tiap ngapain ketawa kalo gak ketawa joget-joget. Nonton tv joget-joget, pas mau ke acara joget-joegt, bahkan habis bunuh orang di kereta joget-joget. Bener-bener kayak orang dengan gangguan jiwa atau lebih spesifiknya, pseudobulbar affect (sebenarnya banyak yg mendiagnosis penyakit yg berbeda
Film ini bisa dibilang memiliki terlalu banyak ironi didalamnya. Kita disajikan dengan beberapa adegan yg harusnya ketawa, tapi dikasih backsound horror, jadinya terkesan sedih dan creepy gitu. Kita sering melihat Joker tertawa, tapi ironisnya dia sedang berada dalam kesedihan . Dan jangan berharap ada adegan kelahi ala film superhero mainstream. Film ini bahkan tidak ngikutin komiknya banget dan lebih menggali hal lain. Lebih banyak menggali sisi masalah kesehatan mental Arthur Fleck yg berhasil dieksekusi dengan apik oleh Joaquim Phoenix dengan baik (thanks to "Her"). Kalopun ada actionnya cuma pake pistol aja, jadi tidak cocok untuk ditonton fanboy superhero mainstream.
Nah, yg jadi pembicaraan saat ini adalah bagaimana film ini dapat memberikan dampak psikologis bagi yang menontonnya. Pasti banyak yg ngira film ini kayak film superhero pada umumnya. Namun nyatanya ini seperti film thriller (psychological thriller lebih tepatnya) dengan hal-hal yg depresif, seram dan demotivational. Banyak penonton yg walkout karena adegan-adegan yg 'begitu'. Yang nonton sampai habis mungkin akan menderita depresi berat dan merasa "hidupku sangat menyedihkan". Ini bukan film yg cocok untuk melepas rasa penat.Gue sendiri kalo boleh jujur memiliki masalah personal saat menonton film ini, tapi Alhamdulillah bisa tahan hingga akhir film dan tidak terasa apa-apa.
Susah sih mencari kelemahan film ini. Karena bisa dibilang film ini bagus banget secara teatrikal, kalo ada yg bilang jelek sih perkara selera sih. Kalopun ada yg jelek atau sebaiknya gak usah ada ada di bagian mau akhir film. Gak usah dikasih tau deh, spoiler jadinya. Tapi kalo kalian penggemar Batman pasti tau adegan ini. Terlalu sering dimainkan di setiap film Batman.
Kesimpulannya, bisa dibilang ini bukan film, melainkan mahakarya teatrikal yang dapat menyentuh hati kita. Seperti apa kata Joker, film ini tidak memiliki punchline, jangan berharap anda akan tertawa atau excited, mungkin anda akan menangis. Apakah Jokernya Phoenix lebih baik dari Ledger memang gak bisa dibandingkan apple to apple karena setiap Joker punya kelebihan dan kelemahan masing-masing. Ini juga menjadi angin segar buat film superhero agar tidak 'gitu-gitu aja', dan lebih menekankan cerita ketimbang CGI. Tidak begitu dianjurkan bagi penggemar superhero mainstream yg ngikutinnya MCU apalagi penonton kartun superhero. Tidak cocok juga untuk anak-anak dan mereka yg tidak suka horror dan depresi berat. Bagi yg suka genre thriller, horror, dan sejenisnya sangat direkomendasikan menonton film ini. Semoga bisa memberikan kesadaran akan gangguan mental.
Dan gak nyangka kalo semua adegan film ini hanyalah khayalan belaka.

Posting Komentar