Menonton Love For Sale 2 Tanpa Menonton yang Pertamanya

Image result for love for sale 2
Film-film di bulan Oktober sebenarnya ada beberapa yg keren ada juga yg b aja. Tapi entah mengapa gue hanya tertarik menonton dan mengulas film Joker. Ada Gemini Man yg meskipun seperti film action medioker yg seharusnya tayang di era 90an (bahkan salah satu reviewer film di Youtube enggan untuk mengulasnya , doi berinisial A tapi nama channelnya berinisial S), tapi masih oke buat ngisi waktu, apalagi ada mbak MEW yg cakep banget. Ada Bebas yg entah mengapa gue kurang tertarik baut nonton. Ada Zombieland yg gue gak bisa tonton karena gue gak nonton yg pertamanya. Ada Terminator yg bukan selera gue, hingga film The Peanut Butter Falcon yg bisa aja menarik. Tentu saja gue tidak menonton Perempuan Tanah Jahanam karena gue gak suka horor. Tapi bukan itu saja penyesalan gue saat ini.

Gue sendiri juga menyesal tidak menonton Love For Sale yg pertama.  Beberapa temen gue menonton film pertama dan mereka bilang film ini awesome. Mereka sendiri semacam role model gue dalam soal kekerenan, apapun yg mereka bilang keren pasti akan keren juga menurut gue.  Beberapa akun twitter film juga banyak mengulas Arini yg menurut mereka "jahat banget", kayak Summer di 500 Days of Summer. Memang film ini secara jumlah penonton tidak sampai 300 ribu tapi menurut yg nonton film ini bagus banget. Ketiak sekuelnya digarap, para netizen langsung reaktif menganggap seharusnya Arini gak makan korban lagi atau paling tidak gak semakin menyakiti hati Richard. Tapi bukan berarti gue tidak tertarik menonton film horor ini. Apalagi karena ada promo Gotix, jadi gue meluncur ke CGV kesayangan gue. BTW kodenya GOTIXARINI , kali aja masih bisa promonya.

Film ini diawali kutipan hadist nabi, dimana cukup mungkin untuk menggaet demografi orang beragama, lalu dilanjutkan dengan si Richard yg lagi di stasiun apa gitu terus berpapasan dengan Arini. Semacam 'koneksi' film pertama dengan film kedua. Lalu scene berpindah ke sebuah pernikahan adat Minang. Disini kita melihat keluarganya Ican yg bergulat dengan keinginan amaknya untuk menikah karena usia Ican sudah 32 tahun. Kita juga diperkenalkan dengan kakak dan adiknya Ican yg sudah menikah. Ada Ndoy yg bekerja sebagai PNS sesuai dengan keinginan ortunya, berbeda dengan Ican yg kerja di agensi. Namun Ndoy menikah dengan janda yg kurang disetujui amaknya. Lalu ada Buncun yg kesayangan ortunya tapi malah salah pergaulan. Ican sendiri tidak bermasalah dengan statusnya saat ini. Hanya saja ia merasa punya beban membahagiakan amaknya. Akhirnya ia mendaftar Love Inc dan lagi-lagi malah dapat Arini, kali ini bernama belakang Chaniago. Awalnya cuma buat nyenengin amaknya, tapi kebelakang Ican malah suka beneran sama Arini. Dan sisanya kita tahu sendiri.

Gue merasakan seberapa relate kehidupan gue sama film ini. Nenek gue dari sisi bokap berklan Sikumbang, nenek gue dari sisi nyokap sama-sama Ros (walaupun beda belakangnya), amaknya Ican rada 'agamis' kayak orang tua gue, Ican sekilas kayak saudara gue yg umur 30an belum kawin, dan kerjaannya Ican kurang lebih kayak apa yg gue alamin. Film ini juga cukup sukses menggambarkan kehidupan urang Minang di tanah rantau, terutama di Jakarta. Mungkin beberapa 'urang awak' bakalan relate banget sama filmnya. Term "Bujang lapuak" juga cukup relate sama sesama orang Sumatera tidak harus dari Sumatera Barat.

Cinemawise, bisa dibilang ini melampaui standar film Indonesia. Cara mereka ngeshoot scene, color gradingnya, hingga ceritanya, semuanya terlihat cukup flawless. Film ini berhasil 'mengoyak-ngoyak' emosi penonton dimana setelah kita menonton film ini emosi dari film ini tetap terbekas hingga beberapa waktu. Castnya juga gak terkesan 'tempelan'. Mungkin kalo gak ada karakter pendukung film tetap oke tapi kalau ada bisa jadi nilai plus sendiri. Kayak Bastian pas ngomong "Ah tai!" di rumah makan padang yg menurut gue tai banget sih. Atau geng Sikumbang Tailor yg bisa mengisi film dengan apik. Surprisingly di film ini ada Roy Marten yg menurut gue semacam easter egg karena anaknya main di film pertamanya. Film ini juga membuat band D'lloyd menjadi keren dan tidak terkesan 'bapak-bapak'.

Suka atau tidak suka, ibunya Ican menjadi tokoh sentral di film ini. Dari bagaimana religiusnya dia sehingga banyak adegan-adegan berbau 'agamis' (mungkin untuk menggaet pangsa pasar yg lebih gede juga terutama dari suku Minang sendiri), sehingga tokoh Ican tidak terlalu digali banget, doi tidak se miserable Richard dan kayaknya masih ok-ok aja di ending . Alhasil Arini disini tidak terlalu 'manic pixie dream girl', mungkin dia adalah 'manic pixie dream daugther in law'.

Kalaupun ada kurang setidaknya tidak menganggu bagusnya cerita. Salah satu yg gue soroti adalah sosok amak yg sesekali medok yg membuat keminangannya sedikit ternodai. Lalu film ini untuk ukuran 'film 17 tahun keatas' masih terlalu sopan. Gue gak tau standar rating Indonesia tapi menurut gue film ini mungkin masih aman ditonton orang dengan 13 tahun keatas. Gundala yg memiliki adegan ngomong kasar 2 x aja masih dapet rating 13 tahun keatas. Mungkin karena adegan ciuman yg cukup lama dan adegan merokok atau emang target marketnya umur segitu. Dan ini mungkin cukup kontroversial tapi gue merasa film ini tidak se'horror' yg digembor-gemborkan. Jargon the most horror story mungkin terlalu berlebihan untuk ditaruh di film ini. Sama product placement dan layar hp yg kurang rapih tapi ini gak terlalu penting.

Kesimpulannya, film ini bisa jadi film yg asik untuk ditonton. Perihal apakah harus nonton film yg pertamanya dulu atau tidak sebenarnya tidak terlalu wajib. Seperti Final Destination, Love For Sale 2 memakai gaya cerita yg sama dengan film pertama instead of lanjutan cerita pertamanya. Namun bagi yg menonton film pertamanya mungkin merasakan seberapa bangsatnya Arini dan mungkin lebih tahu kayak gimana alur ceritanya. Perkara apakah Arini itu baik atau bangsat kayaknya bakal menjadi perdebatan yg panjang, kalo menurut gue sih dia cenderung di tengah. Dia bangsat karena mungkin itu jobdesknya, tapi dia terlalu baik banget sama amaknya Ican sehingga kita cenderung mengiyakan apa yg dia lakukan walaupun dia cenderung cewek 'sewaan'. Pengen banget mengajak keluarga besar gue yg kebetulan Minang untuk menonton film ini namun beberapa adegan bisa jadi membuat gue diceramahin karena nonton film yg tidak-tidak.

"Semua bukan salah aku kamu atau mereka, tapi karena waktu yang tak mengizinkan"



Share:

Posting Komentar

Copyright © Hiboorun. Designed by OddThemes