Salahkah Mengadaptasi Elemen Film Lain ke Film Adaptasi?

Image result for joker behind the scenes
Ya, pada awalnya gue ingin sekali review film minimal 1 film per bulan. Sayangnya kejadian yang terjadi saat ini membuat gue tentunya parno ke bioskop (lagipula bioskopnya juga sudah tutup). Oke kita cari pembahasan yang lain mumpung ada waktunya. Mungkin saat ini bisa membahas film yang cocok dengan kondisi saat ini, namun tentu saja banyak yang sudah membahas ini dan tentunya lebih baik dari gue. Dan rasanya membahas film-film yang terkena dampak virus COVID-19 rasanya terlalu biasa. Oleh karena itu ladies and gentleman, ini adalah rubrik baru: Hiboorial.

Hiboorial sendiri adalah suatu essay yang dikemas menarik, santai dan apa adanya. Sebenarnya pengen bikin video essay gitu cuma minim SDA, jadi kalau ada yang ingin bahas ini feel free to do. Semua ini berdasarkan analisa butut gue dan kalau mungkin bisa bakalan ada analisa yang benar juga. So don't take it too seriously. Pembahasan pertama gue akan membahas suatu fenomena yang mungkin beberapa orang sudah mulai jenuh tapi bakalan ada terus entah sampai kapan. Yaitu fenomena adaptasi IP yg terkenal, dalam hal ini komik, video game, buku, dan bahkan dalam tahap ekstrimnya: emoji. Beberapa ada yang tumplek plek mengadaptasi dari sumbernya, ada juga yang hanya mengadaptasi sedikit-sedikit.

Beberapa bulan yang lalu gue menonton film Joker. Salah satu hal yang menurut gue menarik dari film ini adalah bagaimana film ini berbeda dengan kebanyakan film adaptasi komik lainnya. Gue pernah baca dari suatu media bahwa film ini ada mengadaptasi elemen-elemen dari film Taxi Driver dan The King of Comedy dari Martin Scorcese disamping komik origin storynya Joker di The Killing Joke. Alhasil film ini seakan menaikkan derajat film adaptasi komik pada umumnya. Di tahun yang sama Shazam! sepertinya juga melakukan hal yang sama. Walaupun masih berbenang merah pada komik, gue merasakan adanya referensi film-film 80an, lebih tepatnya film Big dan beberapa film horor anak-anak di era itu. Dan nampaknya film-film lainnya juga mengikuti hal ini. Sonic yang baru gue tonton sepertinya mengadaptasi beberapa elemen dari film lain. Dan seterusnya dan seterusnya.

Ok, yang jadi pertanyaan kita adalah, apakah bagus mengambil inspirasi dari film lain (dan setidaknya elemen selain dari sumber bersangkutan) ke dalam film adaptasi? Jawabannya tergantung eksekusi dan karyanya itu sendiri. Anggaplah Joker sebagai contoh. Bisa dibilang film ini adalah 'anti comic book movie' karena elemen dari komiknya diadaptasi dengan sangat minim, mungkin mereka hanya mengadaptasi nama dan setting tempat saja. Namun Joker bisa berhasil karena pada dasarnya backstory Joker itu ambigu, kita bahkan tidak tahu exactly kehidupan dia seperti apa. Kita tidak tahu mana cerita yang benar dan mana yang hanya khayalan saja. Sehingga ketika dileburkan dengan film-film dengan kesamaan tema akan selalu berhasil. Bahkan kita taro storyline dari film apa saja pun tidak akan jelek karena keambiguitasan karakter ini.

Namun tidak semua elemen yang 'selling out' bisa 'selling out' di film lainnya. Kembali lagi di beberapa tahun yang lalu dimana semua rumah produksi ingin membuat film yang grounded ala The Dark Knight trilogy. Beberapa mungkin berhasil namun lebih banyak yang gagal. Salah satunya adalah Fantastic Four (2015). Bagaimana bisa suatu tim yang "fantastis" dibuat gritty ala Batman? Itu saja sudah membuat kontradiksi yang sangat ironis. Sialnya DC juga melakukan 'kelatahan' The Dark Knight, setidaknya di awal-awal DCEU. Man of Steel menurut gue bukan film yang buruk banget, namun gue merasa Superman yang optimistis dan menginspirasi tidak cocok dibikin tone yang gelap seperti Batman . Formulasi "The Dark Knight" lebih cocok buat Batman karena secara karakteristik memang 'gelap' dan gritty dari sananya. Intinya adalah sutradara harus mengerti dulu karakternya sebelum mengadaptasi suatu elemen dari film lain karena jika karakter yang kita adaptasi berbanding terbalik dengan elemen yang kita adaptasi akan menghasilkan film yang 'aneh'.

Di luar film komik adaptasi elemen lain ke film adaptasi buku dan video game juga menarik. Kita bisa melihat bagaimana Jumanji: Welcome to the Jungle mengadaptasi storyline ala-ala The Breakfast Club di filmnya, atau Sonic yang tidak plek-plekan dari gamenya. Khusus case Sonic cukup menarik, mengingat kebanyakan film video game rasanya terlalu plek-plekan mengadaptasi storyline dan elemen dari video gamenya sendiri. Kita bisa melihat unsur Deadpool dan beberapa film lainnya.  Dan kalau dipikirkan lagi, sebenarnya adaptasi elemen kayak gini itu banyak banget contohnya dan rasanya kalau disebutkan disini semua bakalan terlalu ramai.

Nah itu berdasarkan seberapa cocok mengadaptasi elemen eksternal ke adaptasi film, namun seberapa etiskah perbuatan itu. Apakah itu pertanda rumah produksi tidak kreatif? Tidak juga. Sebenarnya dari mengadaptasi suatu karya pun sudah tidak kreatif sehingga ketika kita mengadaptasi elemen eksternal dari luar adaptasi pun tidak ada bedanya. Namun mengambil inspirasi dari film lain justru memberikan homage kepada pembuat karya dari film itu. Seakan memberikan tanda bahwa film yang dibuat begitu influensial. Dan menurut gue sendiri praktik seperti ini juga memberikan kesan 'kreatif' karena bisa mengawinkan dua unsur berbeda yang membuat pengalaman menonton film jadi menarik. Tentu saja dengan formulasi yang pas.

Nah, kita kembali lagi ke pertanyaan awal : "Salahkah Mengadaptasi Elemen Film Lain ke Film Adaptasi?". Jawabannya memang bisa menjadi perdebatan antar pihak. Ada yang bilang kurang kreatif, malas menulis hingga plagiat. Namun gue berasumsi bahwa ide yang 100% original itu tidak pernah ada. Dan tren seperti ini rasanya cukup lumrah dipakai dimana pun. Justru dengan mengambil elemen dari film lain menurut gue bisa membuat film tsb jadi menarik. Bayangkan menonton film Joker yang 100% plek sesuai dengan komik, apakah akan semenarik Joker yang ini? Memang keputusan ini bisa mengecewakan purist dari penikmat karya yang diadaptasi, namun setidaknya bagi mereka yang hanya penonton casual menganggap film ini menarik selama apa yang diadaptasi dengan elemennya tidak bertolak belakang. Sekian dan terimakasih.





Share:

Posting Komentar

Copyright © Hiboorun. Designed by OddThemes