Home Hibooral Kaleidoskop Film 2019
Kaleidoskop Film 2019
By #Mingir At Desember 26, 2019 0
Yap 2019 mau berakhir dan bisa dibilang ini bukanlah tahun terbaik buat semua orang, bahkan tahun terburuknya mungkin namun setidaknya hidup harus disyukuri aja ya. Regardless oleh apa yang terjadi di tahun ini menurut gue film-film di tahun ini lagi bagus-bagus banget baik dari segi artistik ataupun komersial. Hingga entah mengapa gue memakai blog ini sebagai media untuk mencurahkan pendapat gue seputar film-film yg gue tonton karena gue kurang gape dalam youtube sama podcast. Oke blogging memang sudah tidak zaman lagi tapi karena orang-orang lebih banyak memakai hp dan mereka males memakai kuota mereka jadi blogging (seharusnya) berguna lagi. Apaan sih.
Karena gue payah dalam menentukan list film terbaik atau terburuk atau whatsoever kayaknya lebih baik gue bikin kaleidoskop film 2019 dari bulan Januari hingga bulan ini. Dan film-film yg gue bahas disini tidak melulu harus ada di blog ini. Untuk beberapa film gue menyadur dari pendapat netizen, reviewer film, pemberitaan dll. Tidak ada benar/salah atau bagus/jelek disini karena setiap orang punya selera masing-masing. Tinggal disimpulkan saja secara personal.
Oke kita mulai dari Januari. Bukan awal tahun yg bagus buat perfilman Hollywood atau lokal karena film yg ada disini cenderung biasa aja atau at least kurang appealing buat gue. Paling cuma ada Glass yg merupakan film superhero yg 'beda' yg entah mengapa kurang appealing. Di lokal ada Preman Pensiun yang merupakan finale dari serial tv berjudul serupa. Atau PSP yg seharusnya edgy tapi keliatannya biasa aja. Intinya film-film di awal bulan 2019 masih belum 'panas' untuk menggasak isi dompet masyarakat pengabdi layar lebar.
Februari mungkin udah mulai hangat dan film-filmnya udah makin appealing buat para moviegoers. Ada Alita Battle Angel yg cukup menarik walaupun kurang menggugah. Sebenarnya di bulan ini ada Booksmart yg rada mirip Superbad tapi entah mengapa tidak ditayangkan disini, apa karena demand yg kurang atau ada unsur LGBTnya. Untuk lokalan ada Dilan 1991 yang banyak menggaet para anak muda penggemar Iqbaal dan Foxtrot Six yg terlalu ambisius untuk ukuran film Indonesia.
Barulah di bulan Maret film-film menarik baru hadir. Setelah terlalu lama tidak merilis film, akhirnya ada film MCU yg paling diantisipasi banget: Captain Marvel. Untuk hype yg bisa dibilang terlalu besar tenyata berbanding terbalik dengan apa yg disajikan. Terlalu biasa dan cenderung membosankan untuk ukuran film phase 3 MCU yg gue rasa adalah phase yg keren banget. Hanya sekedar 'asal ada lead superhero wanita' aja. Selebihnya film-film di bulan ini masih biasa aja, seperti Yowisben 2, Dumbo, My Stupid Boss 2 hingga Roy Kiyoshi yg entah mengapa mengultuskan diri lewat film yang tayang di bulan ini.
April udah 'panas' banget. Bisa dibilang film di bulan April sangat exciting sekali meski belum waktu libur sekolah. Dimulai dari Shazam! yg gue rasa film DC (secara overall dan untuk saat ini) paling asik yg pernah gue tonton. Menghibur dan menyenangkan melihat superhero yg awalnya bernama Captain Marvel ini. Malah jauh lebih asik dari Captain Marvel yg sudah tayang di bulan sebelumnya. Selain itu ada Hellboy yg banyak dikritik karena sensornya gak bagus. Nyatanya tanpa sensor-sensoran film ini juga udah jelek dari sananya , setidaknya dari reviewer luar. Ada Pet Sematary yg merupakan remake dari film berjudul sama, dan karena gue tidak suka horor gue tidak menontonnya.
Namun semua berubah di tanggal 16 April karena disinilah sejarah dimulai. Mungkin yg memesan preorder film ini jauh lebih banyak dari penonton Shazam! (dan film-film lainnya) per hari itu. Yak Avengers Endgame adalah sensasi tahun ini. Bahkan saking sensasionalnya sampai bioskop buka jam 5 pagi hanya untuk film ini. Gila banget emang. Namun filmnya juga keren dan epic banget. Hingga membuat film ini menjadi film dengan penonton terbanyak sepanjang masa (mayoritas mereka mungkin tidak mengikuti MCU secara overall).
Bulan puasa mungkin bukan bulan yg bagus untuk menonton film namun bukan berarti tidak ada film menarik. At least buat ngabuburit menjelang buka atau hiburan setelah taraweh. Rasanya sangat cocok menyaksikan Aladdin versi live action di bulan ini. Ya sepertinya Disney lagi demen banget remake sejumlah propertinya for the sake of nostalgia atau emang pengen uang kalian aja. Terus disini ada Detective Pikachu sama sekuelnya John Wick beserta Godzilla. Tinggal pilih aja. Dan di awal bulan rasanya Endgame masih primadona, mengingat bioskop dengan 8 studio saja semuanya menayangkan film itu.
Musim panas sounds good! Juni menjadi lahan basah para PH untuk merilis film-film terbaik mereka. Dari animasi macam Toy Story 4 yg katanya bagus, ada Annabelle juga dan Si Doel. Namun yg menjadi sorotan adalah 2 film yg sama-sama mendapat rating 27% dari Rotten Tomatoes. Yak gue berbicara soal The Dark Phoenix dan MIB International. Harus gue akui 2 film ini emang wajar dikasih rating segitu karena satu dan lain hal. Namun MIB kayaknya sedikit lebih menghibur dari X-men yg rasanya terlalu serius untuk ukuran film gagal. Terus ada 2 film yg menghadirkan Tatjana Saphira, tinggal pilih aja antara Ghost Writer atau Hit and Run. Dan Parasite, film terbaik tahun ini juga rilis di bulan Juni. Ditutup oleh Yesterday bagi yg pengen nonton film romantis gitu.
Masuk di bulan Juli dan list-list film musim panas semakin panas. Diawali dari Spiderman Far From Home yg awalnya kurang dijagokan karena Endgame udah keren banget tapi tetap asik untuk ditonton. Bagi penggemar Fast and Furious ada Hobbs and Shaw namun gue malah menonton Stuber. Memang film ini cenderung medioker dan eksekusinya kurang cakep tapi at least Iko Uwais gak melulu main di film serius , sekali-kali main di film ini. Eh tapi chemistry 2 tokoh utamanya juga menarik sih. Harusnya ada film lokalan yg fokus pada transportasi online. Lokalan ada Dua Garis Biru yang kontroversial tapi emang bagus filmnya sama Koboi Kampus yg mungkin edgy abis karena ada bang Jeje disana.
Film lokal baru mulai 'berbicara' di bulan Agustus. Ada dua film adaptasi Pramoedya Ananta Toer yang tayang bareng: Bumi Manusia dan Perburuan yang lumayan memuaskan dahaga pecinta film dan sastra hingga film Livi Zheng yg katanya 'bersaing sama Avengers'. Namun yang menjadi 'pecah telor' adalah Gundala. Saking bagusnya marketing film ini membuat gue jadi nonton film Indonesia (lagi). Meski film ini kurang sempurna namun salut lah Indonesia bisa bikin film superhero yg proper (selain Jagoan Instan sama Bima). Sama ada Once Upon a Time in Hollywood yang menjadi comeback Quentin Tarantino yang keren. Sebenarnya film ini tayang di bulan Juli tapi tidak menutup animo moviegoers yang menunggu karya epic beliau. Banyak yang gak ngerti filmnya tapi gue cukup menikmati filmnya.
Lokal masih menjadi di bulan September. Diawali dari Warkop DKI yang entah mengapa (dan sampai kapan) Reborn lagi. Meski gimmick tiket 5000 lumayan menggiurkan, tidak menyelamatkan film ini dari kekecewaan penonton (Reborn pertama sebenarnya jelek juga menurut beberapa reviewer tapi masih acceptable). Beruntung ada Pretty Boys yang lebih menghibur. Menariknya secara sinematografi film ini melebihi kebanyakan film Indonesia pada umumnya. Film luar di bulan ini emang kurang bertaji namun Good Boys bisa membuatmu tertawa. Sayangnya film yg pemeran utamanya anak-anak ini khusus dewasa. Selebihnya tinggal pilih IT, Ad Astra sama Rambo yg kurang greget.
Tidak banyak film yg keren di bulan Oktober dan November. Sekalinya ada itu lumayan kontroversial dan heboh. Ya kita berbicara tentang Joker. Joker berhasil membuat film yg critically dan commercially success dengan approach yg beda dengan kebanyakan adaptasi DC atau Marvel kebanyakan. Tak ayal film ini layak dianggap masterpiece. Sebaliknya film full CGI dengan teknologi yg advance tidak membuat Gemini Man stand out di bulan ini. Selebihnya ada sekuelnya Zombieland, Maleficient dan Terminator yang tidak membuat gue pengen nonton. Charlie Angels juga biasa aja. Tapi setidaknya ada Frozen 2 yang bikin anda yg sudah berkeluarga bisa bahagia dan Ford vs Ferrari yang membuat pecinta otomotif tersenyum,
Lalu ada film lokal yg lumayan keren. Yak Love for Sale 2. Gue sendiri menyesal tidak menonton yg pertama namun gue sangat menikmati film yg selangkah lebih maju dari kebanyakan film Indonesia. Surprisingly film ini juga cukup relate sama hidup gue. Ada juga biopik Susi Susanti yg kata orang bagus. Dan Bebas,adaptasi film Korsel yg bagus menurut orang-orang. Sayangnya bagusnya film-film Indonesia di bulan ini 'dikotori' dengan Naga Bonar Reborn. Sudahlah, tren reborn ini jangan banyak-banyak lah, gak semua orang mau juga kok. Udah itu sutradaranya dari film Azrax, udah tahu kali ya kayak gimana.
Meski bulan Desember merupakan musim dingin di beberapa negara namun industri film di bulan ini gak kalah 'panas' dibanding film di pertengahan tahun. Ada Jumanji The Next Level yang menyenangkan hingga Cats yang creepy. Lokalan pasti ada film koh Ernest di bulan ini dengan Imperfectnya. Kata orang-orang bagus sih, mungkin gue akan menontonnya. Ada sekuel Habibie dan Ainun juga (kebetulan dua film itu dibintangi Reza Rahardian sang punggawa film Indonesia). Dan masih banyak lagi film yg cocok untuk mengakhiri 2019 ini seperti Spies in Disguise yg menampilkan Will Smith yg lagi-lagi menjadi agen, atau Star Wars bagi yg suka Star Wars.
Sayang hingga tulisan ini dirilis belum ada kabar apakah Jojo Rabbit sama Bombshell bakal masuk sini. Kayaknya buat tahun depan ya.
2019 merupakan tahun yg menarik untuk menonton film. Bayangkan saja gue tahun lalu hanya menonton 6 film dan sekarang mungkin lebih dari dua kali lipatnya. Ada film yg bagus banget secara pendapatan tiket ada yg flop banget. Film Indonesia di tahun ini juga bisa berbicara banyak di tahun ini. Bayangin aja 2019 udah sekece ini bagaimana 2020 ya. Kalo gue lihat beberapa bocoran film di tahun 2020 itu keren-keren semua, seakan menjadi 'lahan basah' reviewer film macam gue. Bukan tidak mungkin gue akan kaya karena tulisan yg kalian baca ini. Oke see you on 2020!
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)


Posting Komentar