
Tidak terasa sekarang sudah tahun 2020. Banyak banget bocoran-bocoran film keren yg bakal tayang di tahun ini, sehingga mungkin tulisan seperti ini bakal lebih banyak lagi dibanding tahun 2019. Untuk memulai tahun ini mungkin ada baiknya untuk melihat film Indonesia mengingat gue sendiri sudah cukup optimis sama beberapa film Indonesia yang 'naik kelas'. Sama seperti 2019, kebanyakan film Indonesia yg gue tonton biasanya mendobrak standar film-film lokal kebanyakan dan tidak terpaku berapa juta orang yang akan menonton.
Makanya ketika film "Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini" sudah premiere di bioskop, gue memutuskan untuk memulai 2020 dengan film ini. Gue pribadi tidak terlalu membaca buku ini (hanya baca dikit di Gramed terus cabut) makanya gue gak bakalan komentari seberapa akurat film ini sama bukunya (lagipula setahu gue bukunya sendiri juga bukan novel). Di hari pertama penayangan ada kabar bahwa semua kursi di bioskop penuh karena film ini. Beruntung ketika gue nonton di bioskop tidak seramai itu dan gue masih bisa duduk di paling atas. Suasana disana juga gak penuh-penuh amat.
Film ini diawali dengan pesawat kertas yg terbang di awan dengan diiringi "Rehat"nya Kunto Aji dan monolog yg tidak gue ingat. Setelah itu kita disajikan dengan adegan keluarga yang kelihatannya baik-baik saja bersiap untuk kedatangan anggota keluarga terbaru mereka. Menjelang lagunya selesai, ada adegan sang ayah berbicara dengan Angkasa, sang anak pertama, yang membuat mainan yg dipegangnya jatuh. Beberapa tahun kemundian, Awan kini magang di sebuah firma arsitek dan dipecat karena suatu hal. Setelah itu Awan tertabrak mobil hingga membuat tangannya harus ditandu. Hingga akhirnya di suatu konser musik Awan bertemu dengan Kalé (gue kasih apostrophe biar dibaca kale bukan kel) yang memberikan perspektif berbeda tentang kehidupan. Dan kehidupan keluarga yang dulunya adem ayem berubah.
Nah makin kebelakang kita disajikan dengan konflik yang semakin bereskalasi hingga menimbulkan efek domino. Setiap adegan pasti ada flashback yang menjadi semacam puzzle untuk menjelaskan 'masalah-masalah' yang dihadapi film ini. Tak jarang flashbacknya tidak berurutan banget misal dari adegan pas Angkasa SMP lalu flashback ke masa kecil lalu balik lagi dst. Semua terjadi untuk mempertebal konflik dan drama yang ada. Mungkin memang agak membingungkan seperti adegan pas Angkasa ngelihat tumpukan kayu yang diangkut di separuh awal film , dan baru dijelaskan di 1/4 akhir film.
Semua anggota keluarga memiliki konflik sendiri. Awan yang paling banyak dapat porsi memiliki masalah dengan ayahnya yg dirasa 'enggan untuk gagal' hingga memanfaatkan Kalé untuk pelampiasan masalahnya. Kalé juga memberikan perspektif bahwa tidak masalah untuk memiliki masalah. Aurora, sang anak tengah juga memiliki struggle karena dicueki sama keluarganya. Sedangkan sang kakak Angkasa memikul beban berat karena harus menjaga adik-adiknya. Orang tuanya juga punya konflik sendiri, sayangnya konfliknya spoiler banget nih. Tapi setidaknya semua masalah ini terselesaikan (atau tidak?) dan semuanya disajikan (dan dieksekusi) dengan indah.
Elemen pendukung film ini juga tak kalah bagus. Memang tidak semua berkesan namun soundtrack dan beberapa detail-detail sepele lainnya juga berhasil mendukung film ini. Karena film ini bersifat 'terapi' tak ayal soundtracknya juga bersifat terapi. Selain Rehat juga ada Secukupnya dari Hindia, ada lagunya Isyana juga, hingga band Arah yg ternyata emang beneran ada. Lalu ada cameo dari Umay, Chicko Jericho, hingga Gary Iskak.
Sayangnya tidak semua cameo mendukung cerita ini dengan baik. Salah satunya adalah pas kamera menyorot ke Isyana. Dia jadi apa coba? Tidak terlalu dijelasin dan gak ngomong juga. Lalu bagi beberapa orang plot yg 'melompat-lompat' lumayan mengganggu bagi mereka yg terbiasa dengan plot linear.
Untuk membuka 2020 film ini bisa dibilang bagus untuk ditonton. Tidak perlu membaca bukunya untuk mengerti ceritanya, dan dijamin anda akan menangis di beberapa adegan. Dan momen keluarnya film ini pas, mengingat konten 'terapi' dan/atau 'kesehatan mental' seperti Mantra-Mantra nya Kunto Aji atau Menari Dengan Bayangan nya Hindia sedang laku-lakunya untuk milenial. Masalah yg disajikan cukup relate sama milenial dan cocok ditonton keluarga yg asik. Film ini seakan memberi kita insight bahwa tidak masalah kalau kita pernah gagal. Dan seperti kata Hindia, ketika kita menonton film ini jangan lupa "Ambil sedikit tissue" dan "Bersedihlah secukupnya".
BTW, Sheila Dara cakep juga ya disini.

Posting Komentar