Once Upon a Time in Hollywood yang...

Image result for once upon a time in hollywood
Bisa dibilang Quentin Tarantino merupakan salah satu sutradara terkeren di kancah film dunia. Karya-karyanya bisa dibilang jempolan dari sisi artistik dan beberapa kritikus film dan penggemar film memujinya. Banyak video essay di Youtube membahas tentang Tarantino, dari bagaimana ia memasukkan aksi full intensitas, bagaimana ia 'mencuri' elemen film lain untuk dimasukkan di filmnya, hingga hal sepele seperti bagaimana makanan menjadi simbol penting buat film Tarantino. Ketika gue mendengar kabar kalo doi bikin film lagi yg tayang di tahun ini, gue yg saat ini (semi) movie freak langsung mengantisipasi. Gue pribadi gak pernah nonton film Tarantino secara langsung, paling hanya menonton video essay itu aja. Jadi kalo review gue kurang berkenan buat para fanboy Tarantino, gue minta maaf ya. Apalagi film ini dibintangi Leonardo DiCaprio dan Brad Pitt, sebuah paket yg sempurna untuk film ini, ditambah Margot Robbie lagi. DiCaprio+Pitt+Tarantino=Perfect! Wajar saja jika film ini menjadi film Tarantino terlaku secara penjualan tiket.

Sayangnya film ini telat masuk di Indonesia. Sebenarnya di Amerika sana film ini sudah tayang sejak bulan Juli, baru masuk sini akhir Agustus. Itupun dengan slot tayang yg minim. Gue sendiri agak hopeless karena di Tangerang film ini hanya tayang di beberapa XXI dan Maxxbox Karawaci. Eit, tapi gue gak ngeh kalo bioskop yg punya IMAX nayangin film ini di studio IMAX nya aja. Yaudah gue tonton di IMAX aja, apalagi harga tiketnya sama persis dengan tiket nonton di studio biasa. Ini semacam penghormatan karena film dengan sutradara terbaik harus ditonton dengan kualitas terbaik. Ini adalah kali kedua gue nonton di IMAX, pertama kali nonton di Keong Mas dengan film tentang dinosaurus. Karena filmnya mendukung jadinya pengalaman menonton film itu lebih asik.

Oke balik ke film ini. Film dimulai dari logo SONY (agak aneh menonton film Tarantino ada logo ini, detail kenapanya bisa dibuka di Wikipedia). Lalu muncul logo Columbia Pictures versi jaman itu (1969) tapi ada tulisan semacam "Sony Company" atau apalah itu. Dan muncullah adegan serial TV fiksi "Bounty Law" dimana si Rick Dalton berperan disana. Setelahnya ada adegan wawancara antara Rick dan stuntmannya, Cliff Booth dan seorang pembawa acara yg sepertinya terkenal saat itu. Lalu film dimulai.

Diceritakan Rick Dalton merupakan bintang tv yg ketenarannya sedang meredup. Suatu hari ia dan stuntmannya ditawari film "Spagetti cowboys" dimana pada saat itu dianggap 'receh'. Lalu mereka balik dan Rick merasa bahwa karirnya sudah habis. Lalu ia menyadari bahwa Roman Polanski, sutradara yg sangat terkenal saat itu, bertetangga dengan Rick. Selain menyoroti kehidupan Rick dan Cliff, film ini juga menyorot sosok Sharon Tate, bintang film ternama yg juga istri Roman Polanski.

Film ini, dan beberapa film Tarantino lainnya, bukanlah film yg bisa diterima semua orang. Gue sendiri ketika menonton film ini merasa sedikit kebingungan, "Kok gini banget filmnya?". Tapi bukan berarti film ini tidak menarik. Banyak hal-hal menarik seperti banyaknya referensi pop culture saat itu (bagi kalian yg punya kakek yg pernah tinggal/tugas ke Amerika saat itu mungkin akan relate), hingga musik yg pastinya keren. Karakteristik film-film Tarantino seperti pace yg 'membosankan', percakapan yg 'khas', pemberitahuan setting waktu yg spesifik, hingga kaki-kaki cewek yg eye catching sudah pasti terlihat di film ini. Mungkin yg kurang adalah intensitas actionnya yg lebih sedikit. Kalo pun ada di bagian '60an'nya , percuma gue nonton di IMAX. Tergantung selera sih bagi yg ini , tapi gue sendiri jadi bisa menikmati film ini tanpa khawatir ngilu atau apa.

Film ini juga mencampur adukan kejadian fiksi dan nyata. Beberapa tokohnya memang beneran ada di zaman itu. Tentunya karena ini film fiksi dan disutradarai oleh Quentin Tarantino, beberapa adegan sengaja dibikin berbeda dengan kejadian aslinya, alias Tarantino membuat semacam alternate universe sendiri (karena film adalah dunia milik sutradara dan terserah mereka mau bagaimana mengatur dunia mereka).  Walaupun menuai kontroversi seperti Bruce Lee yg dianggap 'tidak seperti itu' hingga penggambaran Manson family yg tidak digambarkan sebagai "White Supremacist", melainkan sekelompok hippie yg kerjaannya jualan LSD.

Penggambaran tahun 60annya juga bisa dibilang jempolan. Bayangin ada sekitar ratusan brand yg dibuat menyerupai versi saat itu. Dan bagusnya gak ada (atau gak ditemuin) logo yg berada di situ bukan berasal dari era itu. Visualnya juga ajib, kita benar-benar merasakan seperti hidup di tahun 60an. Benar-benar seperti menonton film 60an. Dan menarik. Seperti kebiasaan merokok, naik mobil yg tidak ramah lingkungan dan aman, hippies (dede-dede hippiesnya cakep-cakep), dan LSD.

Berbicara soal makanan, bisa dibilang Tarantino terampil untuk memanfaatkan makanan tidak hanya untuk penghilang lapar saja. Seperti yg gue jelasin di paragraf awal, terkadang makanan menjadi simbol 'kuasa' sang karakter atau simbolisasi apalah itu. Sepertinya simbol heroik bisa dilihat saat si Rick Dalton membuat pilot serial "Lancer", ia makan paha ayam agar aktingnya menarik. Rick juga makan apa gitu saat negosiasi sama si Madrid 'Lancer'nya itu (lupa namanya siapa tapi ada Madrid nya gitu). Tapi bagian yg gue soroti lebih mendalam adalah saat Cliff kasih makan si Brandy lalu ia bikin Mac n Cheese dimana di film ini sekedar membuat mac n cheese aja bisa eye pleasing dan keren.

Hal paling menarik di film ini jelas adalah Manson family. Beberapa reviewer film merekomendasi calon penonton film ini untuk cari tahu soal Manson family sebelum nonton film ini. Gue sendiri cukup bingung karena di film ini sama sekali tidak dimention nama kelompok ini. Gue baru research dan sadar setelah film ini. Manson family ini semacam sekte sesat yg bertanggung jawab atas beberapa kasus pembunuhan. Salah satu kasus yg terkenal adalah pembunuhan Sharon Tate. Tapi Tarantino memberikan twist atau semacam alternate universe untuk kasus ini.

Tapi film ini memiliki ganjalan (atau kekurangan tergantung kaliannya gimana). Salah satunya adalah Cliff sama Rick gak pernah ketemuan secara frontal sama Sharon, yg membuat gue kebingungan karena 3 tokoh ini diplot sebagai tokoh utama di poster film ini. Sama kenapa di tengah masing-masing tokoh utama dikasih plot sendiri, Rick syuting pilot "Lancer", Cliff ketemu hippies yg tinggal di lokasi syuting "Bounty Law", hingga Sharon yg nonton filmnya sendiri sambil angkat kaki segala (bapak-bapak samping gue jadi ikut-ikutan angkat kaki juga, tapi row bawah gue gak ada orang sama sekali). Terus kelanjutan dari pilot Lancernya gimana kok tiba-tiba nonton FBI segala. Sama gue pribadi agak bingung soal kenapa si Rick setelah jadi cameo di FBI jadi setuju main di film koboi Italia dan sukses. Tapi itu hanyalah keresahan pribadi sih.

Secara overall, meski dengan segala pro dan kontra, gue senang menonton film ini. Gue bukan pengikut film Tarantino tapi gue masih bisa menikmati film ini. Film ini adalah eksperimennya Tarantino tapi elemen utamanya doi tetap terasa. Hal yg gue suka adalah film ini cukup realistis dimana kita sendiri cukup relate dengan film ini. Fans film Tarantino aja mungkin kecewa apalagi penonton awam. Gue bahkan melihat kalo ada beberapa penonton yg keluar bioskop setelah beberapa menit saking membosankannya. IMAX yg studionya gedeeeee banget aja sepi banget bahkan ada 2 row atas yg tidak ada penontonnya sama sekali (di tempat gue). Gue baru tau kalo film ini adalah film drama komedi, saking sepinya gak ada terdengar tertawa.  Kalo nonton film ini harus di IMAX karena selain harganya sama dengan yg reguler impresinya lebih asik dan gak bikin ngantuk bahkan sampai walkout. Sayangnya slot tayangnya dikit bahkan di beberapa kota udh bungkus. Yaudah deh nonton di 'situ' aja.

Gue baru nyadar kalo gue gak nyebutin nama judul film ini di review ini (selain di judul), saking panjangnya judul (dan durasi) film ini.



Share:

Posting Komentar

Copyright © Hiboorun. Designed by OddThemes