Gundala yang Tidak Bikin Gundah Gulana

Image result for gundala
Kapan terakhir kali lo nonton film Indonesia (yg keren)?  Film Indonesia terakhir yg gue tonton adalah filmnya Bima Satria Garuda (gak tau judul sebenarnya apa) yg bisa dibilang kurang dari segi produksi dan beberapa hal lainnya padahal udah kerjasama sama negeri orang. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap perfilman Indonesia, gue merasa beberapa film lokal bisa dibilang asal jadi aja. Kalopun ada film Indonesia yg bagus gue selalu gagal menontonnya entah karena faktor selera atau gue yg selalu kurang beruntung atau emang males aja. Sampai akhirnya film Gundala ini muncul. Bisa dibilang Gundala adalah film superhero 'beneran' di Indonesia setelah publik Indonesia dihebohkan dengan film 'Jagoan Instan' yg kurang serius dan film Bima yg gue tonton terakhir yg menurut gue lebih baik tayang di tv aja. Wiro Sableng kalo menurut gue lebih ke cerita aksi yg lebih 'daerah' bagi gue kurang masuk kalo dibilang superhero (tapi ini terserah kalian sih).

Gundala sendiri adalah satu dari sekian banyak karakter yg bernaung dalam jagad Bumilangit, dimana Bumilangit ingin menyelamatkan beberapa karakter komik asli Indonesia (ya Gundala emang beneran ada komiknya). Karena masyarakat Indonesia belum tahu banget soal hak cipta kalo kita lihat Gundala dan beberapa superhero Bumilangit yg lainnya aslinya cukup mirip sama beberapa karakter Marvel dan DC (terinspirasi mungkin ya). Gundala sendiri secara kostum mirip sama Captain America dulu (kostum biru dengan sayap di kupingnya). Beruntung Gundala yang ini kostumnya dimodifikasi sehingga lebih orisinil dimana yg bertahan hanyalah sayap di kuping itu. Mungkin pahlawan lainnya bakal diberi treatment yg sama.

Note: Karena gue rada ember dan cukup detail mungkin review ini mengandung sedikit spoiler tapi sebisa mungkin gue gak ngespoil endingnya. Kalo gak mau terganggu mending nonton dulu baru baca review ini.

Film ini dibuka dengan iklan bukalapak showcase pahlawan Bumilangit (kayak opening beberapa film DC), lalu logo Screenplay (yg membuat film ini, rada brief mungkin). Lalu scene dibuka dengan kelompok buruh pabrik yg berdemo menuntut keadilan dimana ayah Sancaka adalah salah satu diantara mereka. Kebetulan Sancaka berada di kerumunan itu. Ternyata 2 orang yg jadi perwakilan yg bertemu langsung dengan bos pabrik itu menghilang 3 hari kemundian. Dan buruh yg tersisa berkelahi dengan keamanan disana. Entah mengapa scene ini mirip banget sama yg terjadi di The Raid: Berandal , udah itu hujan dan becek lagi. Perkelahian ini membuat ayah Sancaka meninggal dan Sancaka yg melihat langsung kejadian ini langsung sakit hati. Belum lagi sang ibu yg 'meninggalkan' ia dengan dalih 'cari kerja'. Bisa dibilang masa kecil Sancaka cukup keras. Terinspirasi oleh nasihat sang ayah yg berjuang melawan ketidakadilan, Sancaka menolong seorang wanita hanya untuk dikejar-kejar anak jalanan dan mendapati telinganya 'dikorek' kelompok anak jalanan ini.

Hingga akhirnya ada sosok yg menyelamatkan Sancaka. Dialah Awang. Sebenarnya dia adalah orang yg hanya peduli diri sendiri karena ia percaya peduli pada orang lain akan membuat hidupnya susah. Ketika ditanya "Kenapa lo tadi nyelamatin gue?" ia hanya menjawab "Makanya hidup gue susah." Alhasil Awang mengajarkan silat agar tidak merepotkan dia. Meski secara prinsip agak egois, setidaknya Awang mengajarkan Sancaka untuk bisa melindungi diri sendiri. Namun ini membuat Sancaka diam saja melihat kezaliman di jalanan dan hanya peduli diri sendiri.

Prinsip ini terus dijalani Sancaka hingga dewasa. Bekerja sebagai satpam di percetakan koran fiksi "Djakarta Times", ia hanya diam melihat preman sedang menzalimi sesosok wanita. Bahkan monolog wanita di metromini pun tidak menggerakkan hati Sancaka untuk peduli sesama. Sampai suatu hari ia melihat copet mau masuk ke kantornya dan diizinkan pak Agung untuk diselamatkan. Pak Agung lagi-lagi mengucapkan kalimat yg mengingatkan Sancaka akan nasihat bapaknya. Alhasil ia jadi peduli pada ketidakadilan lagi. Konsekuensinya seperti apa yg terjadi saat Sancaka masih kecil, digebukin preman, telinga sebelah kirinya dicongkel lagi, dan parahnya dilempar dari gedung. Tapi Sancaka malah mendapatkan 'petir terbaik yg pernah menyambarnya' dan memberikannya kekuatan misterius.

Disisi lain, kita disuguhkan dengan adegan kumpul-kumpul anggota DPR dimana Pengkor meskipun ia bukan anggota DPR tapi sebagai 'rakyat' ia perlu datang untuk menasihati 'wakil rakyat' nya. Disinilah backstory Pengkor diceritakan. Ceritanya mirip sama awalan film ini, dengan bapaknya Pengkor sebagai pemilik lahan yg zalim. Ayahnya difitnah, rumahnya dibakar, membuat Pengkor jadi beneran 'pengkor', mukanya terpapar luka bakar, dan tentunya meninggalkan luka batin. Ia dimasukkan ke panti asuhan yg lebih mirip tempat penyiksaan anak. Namun ia merencanakan misi pemberontakan dimana ia berhasil merebut kembali harta warisan yg seharusnya miliknya, membagikannya kepada anak panti asuhan, dan saat ini ia memiliki panti asuhan dengan ratusan 'anak' yg menganggap dirinya 'Tuhan'.

Bisa dibilang Gundala sendiri merupakan film yg cukup "Indonesia" banget. Kita tidak akan menemukan superhero yg 'kartun' banget seperti film MCU atau beberapa film DCEU, melainkan superhero yg lebih 'membumi'. Aksinya juga organik, alias kelahinya beneran, minim CGI. Petir yg selalu mengikuti Sancaka hanyalah easter egg atau elemen pendukung karena yg digali dari film ini adalah jiwa 'patriot' Sancaka itu sendiri. Petir hanya memberi kekuatan tambahan sehingga Sancaka katakanlah, mengalahkan 30 preman pasar dengan mudah, atau menyembuhkan diri sendiri dengan cepat. Sancaka baru pake kostum di separuh akhir film.

Disisi lain, Pengkor merupakan antagonis tipe 'mastermind'. Tipe musuh ini bukanlah tipe yg populer di MCU (Zemo sendiri memakai kekuatan mastermindnya karena kebetulan keluarganya mati di kejadian Sokovia) dan kalo di DCEU Lex Luthor disia-siakan. Bukti kalo ia seorang evil genius sejati bahkan sudah dibuktikan sejak kecil. Selain itu ia juga gila hormat. Ada kejadian seorang 'anggota DPR muda' dengan cukup frontal 'menghinanya', apa yg terjadi kemundian? Ia diikat di kursi yg terdapat tali yg menggantung anggota keluarganya dimana kalo ia bergerak keluarganya akan jatuh. Akhirnya talinya malah dibakar yg membuat sang anggota DPR dengan spontan berlari menyelamatkan keluarganya. Alhasil, istri dan anak-anaknya tetap meninggal, sang anggota DPR itu juga meninggal. Belum lagi pas bagian ngeracunin beras yg ternyata ada rencana lanjutan yg terselubung dibalik insiden itu. Emang beneran mastermind musuh ini.

Secara cerita, film ini bisa dibilang 'Indonesia banget', walaupun di beberapa elemen ada hal-hal yg membuat ini lebih baik ketimbang film Indonesia kebanyakan. Tujuannya agar film ini lebih 'membumi' dibanding film superhero Hollywood. Bahkan ada adegan nikahan segala, jarang ada film serius tiba-tiba ada adegan pernikahan. Lalu film ini cukup relate dengan kehidupan Jakarta, seperti pembakaran pasar, hoax, premanisme dll. Satu hal yg mustahil adalah anggota DPR yg 'benar', dimana mereka membela kebenaran walaupun mereka bukan orang yg 'suci'. Sayangkan mayoritas dari mereka mati karena ulah kaliantausiapadia.

Hal yg menurut gue cukup notice adalah beberapa adegan yg 'template'. Sebenarnya masalah ini tergantung kalian semua sih kalo gue pribadi tidak bermasalah. Adegan 'template' yg gue notice adalah bagian buruh protes yg ada di backstory Sancaka dan Pengkor, adegan Sancaka digebukin yg pas kecil dan udh gede mirip, hingga adegan sepele seperti menyebrang rel kereta yg entah mengapa shoot awalnya disitu terus, terus ada orang menghampiri mobil dan adegan sisanya dibedain. Uniknya, semua yg lewat rel kereta itu anggota DPR. Adegan yg 'tidak umum' juga terjadi di film ini, selain adegan nikahan yg entah kenapa ada aja di film kayak gini dan adegan si pemain biola ketabrak bus yg sebenarnya adalah adegan yg lazim di film action comedy seperti Deadpool tapi fine-fine aja di film yg cukup serius ini. Tapi itu bukti kejeniusan sang Joko Anwar.

Namun sayangnya ada beberapa kekurangan di film ini yg cukup mengganggu. Salah satunya adalah penokohan. Meski beberapa karakter udah di tease di internet, tetap saja ada karakter yg tidak dijelaskan secara rinci "Siapa dia?" "Jahat atau baik?" dll. Di Wikipedianya sendiri bahkan hanya dikasihtau dia berperan sebagai apa, tidak ada penjelasan rinci dia ngapain di film ini. Coba bandingkan dengan artikel Wikipedia film-film MCU. Yg jadi anggota DPR aja gue cuma tau Lukman Sardi aja, sisanya gue harus garuk-garuk kepala. Yg paling membingungkan sih sosok yg bernama Ghazul, gak tau aja apakah dia masih kaki tangan Pengkor atau memberontak. Gak taunya kita disuguhkan dengan adegan dia sama si Ganda siapalah itu namanya (peluklah diriku dan jangan kau lepas) menggali kuburan yg berisi sesuatu (semacam MacGuffin), masuk ke museum dan membangkitkan calon musuh akan menyulitkan pahlawan super nanti. Yg memberi nama Gundala malah si Ghazul, bukan Sancaka sendiri, aneh gak? Tapi menurut beberapa artikel sih si Ghazul emang salah satu antagonis di komik Gundala.

Kelemahan yg mengganggu selanjutnya adalah beberapa adegan yg tidak perlu. Adegan seperti Sancaka masuk mobil hanya untuk keluar lagi dan berlari bukan adegan yg perlu-perlu amat. Terus sebelum anak buah Pengkor meracuni beras, adegan mobil yg tiba-tiba mundur karena lupa rem tangan juga tidak penting, dan ketika Pengkor menghubungi 'anak-anak'nya bisa dibilang terlalu panjang dan monoton (hanya adegan kuliahan yg tidak monoton). Mungkin bisa dibikin lebih pendek atau lebih bervariasi. Ditambah separuh akhir post credit (ya, film ini ada post credit) yg sebenarnya udh 'bocor' di filmnya. Selain itu film ini kurang memberi kesan yg membekas. Tapi ini tergantung selera aja sih, mungkin aja ada yg terkesan. Tapi memang beberapa film yg gue tonton tahun ini banyak yg kurang berkesan (selain Shazam!, Endgame dan Far From Home) tapi setidaknya gak separah Captain Marvel yg monoton banget.

Secara overall, film ini bukanlah film yg 'wah' banget tapi konsep yg membumi ini bisa dibilang membuat film ini bisa lebih relate sama kita. Joko Anwar tidak berusaha membuat Gundala (atau jagad Bumilangit) menjadi seperti MCU atau DCEU tapi membuat karakter universe yg "Indonesia" (atau Jokan banget karena ada 'bapak' dan Tara Basro). Meski dengan kekurangan diatas gue tetap berharap proyek jagad Bumilangit jalan terus, mungkin bisa memperbaiki kekurangan diatas. Bagi yg suka MCU , DCEU atau karakter Marvel dan DC mungkin bakalan kecewa, tapi kalo kalian suka film semacam 'Serigala Terakhir', 'The Raid' (termasuk Berandal), dan film sejenis lainnya mungkin film ini cocok banget sama kalian. Meski secara aksi gak sebagus film-film diatas, paling tidak film ini bisa ditonton anak SMA dan mereka yg ngeri sama darah.  Gue mengucapkan terimakasih kepada Joko Anwar dan para kru film ini yg bisa bikin gue tergerak untuk nonton film Indonesia lagi dan melakukan hal-hal yg gak pernah gue lakuin ketika menonton film Indonesia, seperti preorder tiket secara online dan nonton sampai habis banget . Tapi kenapa ya animasi creditnya mirip banget sama Civil War? Apa karena kostum Gundala dulu kayak Captain America ya? Tapi selamat lah buat Gundala semoga bisa menginspirasi tidak hanya sineas Indonesia tapi juga sineas negara Asean untuk membuat film sejenis. Sukses terus ya.

Note: mohon maaf jika review film ini dibuat agak buru-buru karena besoknya gue mengejar film "Once Upon a Time in Hollywood" yg bisa aja minggu depan bisa aja bungkus di kota gue. Kalo gue bikin review sambil nonton film yg lain takutnya gue lupa sama plot film ini. Kalo ada yg pengen ditambah bakal ditaro dibawah ini. Dibawah bakalan banyak spoiler. Maaf banget ya. Review film yg bersangkutan bisa dilihat disini. Terimakasih.

Tambahan (spoiler!): Ada satu hal yg menganggu banget yg gue belum masukin, yaitu kenyataan bahwa film ini terlalu berharap universe ini akan berhasil. Makanya beberapa adegan kayak gantung gitu (walaupun mungkin ini bisa jadi trik marketing tapi lumayan mengganggu sih, apakah bakalan ada di netflix dkk atau hanya tersedia di indoxxi?) Iron Man pertama aja tidak kasih easter egg soal film selanjutnya atau apa selain di post credit yg cuma bilang kalo gak cuma dia superhero di universe itu. Bener-bener standalone movie banget. Sama permasalahan Ghazul, ternyata doi lebih complicated yg gue kira. Bisa dibilang doi yg 'membangun' jagat Bumilangit ini. Salah satu easter egg yg ngehe banget sih adalah perusahaan buat menetralisir beras yg diracun yg kalo kalian ngeh nama perusahaannya (dan bahkan logonya) adalah milik Ghazul. Bahkan doi ngeplot apa yg terjadi di bagian endingnya Gundala. Sungguh jenius sekali Joko Anwar.


Share:

Posting Komentar

Copyright © Hiboorun. Designed by OddThemes