Menguber Iko Uwais di Stuber

Image result for stuber
Setelah sekian lama gue nonton film yg banyak adegan mustahilnya, kali ini gue balik ke film yg lebih "realistis". Tanpa CGI, tanpa makhluk yg aneh-aneh, hanya manusia biasa yg tak memiliki kekuatan super dan luput dari salah dan dosa. Kali ini film yg gue tonton adalah film 'laga' yg dibalut dengan komedi (gak tau apakah film action dan laga adalah hal yg berbeda tapi kalopun ini film action ini adalah film action 'organik' dimana kelahinya 'beneran'). Jualannya cukup menarik, ada 'bintang MCU' (2 dari guardians dan satu lagi baru diumumin tadi buat film tahun 2020), kalo buat pasar Indo (atau Asia Timur/Tenggara) ada Iko Uwais yg untuk pertama kalinya main di film action comedy ini (diluar ovj dll ya). Film ini khusus dewasa karena banyak adegan kekerasan yg 'berdarah' hingga ngomong kasar hingga referensi seksual jadi jangan tonton film ini bersama anak/ponakan anda jika tidak ingin mereka menjadi Beavis dan Butthead yg baru.

Film ini secara cerita mengingatkan kita pada konsep 'buddy cop' yg merupakan konsep yg jamak di tahun 80an. Kalo dianalogikan dengan film generasi millenial film ini "Central Intelligence" banget. Bedanya dua tokoh utama ini tidak saling kenal dan jokes tidak ramah anak sih. Ada sedikit sentuhan dari Deadpool 2 juga. Kalo nonton pasti ngeh di bagian mana. Filmnya juga berdurasi satu setengah jam, jadi bisa menghemat waktu.

Scene dibuka saat si Vic sama pasangannya (gue lupa, tapi diperanin Karen Gillan) mau gerebek di Tedjo (kalo gak salah pernah ada yg pake nama ini di salah satu filmnya Iko Uwais). Ala-ala The Raid gitu sih. Terus si Vic sama Tedjo ambil kuda-kuda silat gitu. Menarik melihat mantan pegulat bertarung dengan pesilat soalnya gak banyak adegan berantem yg beda disiplin ilmu selain One Championship gitu. Lalu si Tedjo kabur dengan melompat ala-ala ninja warrior gitu (menarik kalo Iko Uwais beneran melakukan ini). Ketika udh mau turun malah ditembak walaupun masih bisa bertarung di bawah. Lalu dengan cekatan Tedjo kabur dan nembak yg ceweknya itu. Well, bagi yg suka  Karen Gillan mending cabut aja dan nabung buat nonton Jumanji akhir tahun nanti.

Beberapa bulan kemudian kita diajak untuk menyelami kehidupan si Stu. Seperti halnya  beberapa supir taksi/ojek online pada umumnya, Stu punya pekerjaan utama sebagai karyawan di sebuah toko serba ada. Tiap kali mau narik Uber (disana Uber masih ada ya) yg pertama naik pasti si bosnya yg nyebelin yg suka cengcengin dia "stuber" (makanya judul filmnya ini). Seperti halnya supir taksi online pada umumnya, Stu selalu pengen banget dapet bintang lima, bedanya sama orang indo yg lebih sungkan kasih bintang lima orang Amerika kayaknya cenderung lebih apa adanya,kalo gak suka ya gak suka sehingga susah buat dapat bintang lima.

Disisi lain, si Vic masih belum nyerah buat nangkap Tedjo. Diberikan premis operasi LASIK dan dia dengar kabar si Tedjo balik lagi. Vic langsung tancap gas bawa mobil padahal operasi lasiknya belum pulih. Melihat 2 premis ini aja  pasti tau lah apa yg terjadi selanjutnya.  Karena Dave adalah The Rock versi bodor/h adegan ini menurut gue jadi ngakak. Gue gak mengenyam ilmu film komedi tapi menurut gue ini adalah teknik dasar menulis komedi, bikin situasi lalu patahkan dengan hal ironi.

Yaudah selanjutnya Vic pesan Uber dan kebetulan dapetnya si stu ini. Kita bisa lihat kontrasnya kepribadian mereka. Vic keliatannya sosok gaptek, keras kepala, toxic masculinity tapi bodor. Karena Stu pake mobil listrik (sewaan) ditimpalin Ama Vic "nyalain mobilnya" "Ini mobil listrik, emang gak ada suaranya". Terus juga ada diskusi seputar segala macam yg menunjukkan betapa kontrasnya kepribadian mereka.

Comedy-wise, film ini jokesnya Amerika banget, dimana bagi orang Indonesia gak banyak yg ngerti. Terus juga membahas hal-hal yg tabu di sini (wajar film dewasa) kayak LGBT dan narkoba. Memang narkobanya di The Raid juga ada cuma masalahnya nyasar ke anak-anak juga. Film ini juga agak rasis walaupun gak serasis film komedi dewasa lainnya. Banyak omong kasar sudah pasti, omongan berbau seksual juga frontal, kekerasannya juga berdarah-darah. Tapi yg surprisingly sih adalah ajaran kehidupan yg bagi gue cuma bisa dilihat di film yg ramah anak (atau yg emang buat anak-anak).

Kalo secara aksi, jelas ini film aksi organik jadi jangan berharap ada CGI disini. Semua kelahinya beneran. Tentunya dengan supervisi dari profesional. Karena ini film komedi tentunya juga ada bagian nembak yg kocak. Ketika si "pelaku narkoba" dikunci di mobil dan dia nuduh 'lo supir uber ya?' si Stu langsung nembak dan langsung teriak 'AAAAAAAA' (kemundian dibawa ke rumah sakit hewan). Special effectnya juga beneran kayaknya, walaupun agak mustahil mobil listrik (sewaan) bisa meledak.

Overall, jelas ini bukan film terbaik di dunia. Tapi somehow film ini gak bisa dibilang jelek banget hingga mendapat tomat busuk. Mungkin biasa aja sudah cukup untuk menggambarkan film ini. Sangat disayangkan film ini terlalu fokus pada dua protagonis. Iko Uwais yg namanya tampil ketiga di credit animation dan poster filmnya aja scenenya dikit banget (biasanya nama ketiga dapet scene yg sedikit lebih sedikit atau sebanyak tokoh utama). Tapi melihat Iko di film komedi memang lumayan nambah pengalaman setelah semua filmnya serius banget. Meskipun dia gak secara langsung ngelawak paling tidak sudah cukup untuk diferensiasi deh. Film ini cocok ditonton supir taksi online (ojol juga boleh), mungkin kalian akan merasakan apa yg dirasakan di film ini dari susahnya dapat bintang 5 atau ketemu penumpang nyebelin. Atau mungkin untuk persiapan kalo ada polisi mau menciduk gembong narkoba biar gak ketauan. Sayang karena filmnya biasa aja, tidak banyak bioskop yg mau menayangkan dan waktunya tidak sebanyak film 'blockbuster' sehingga kalian tonton film ini di layar yg lebih kecil aja.


Share:

Posting Komentar

Copyright © Hiboorun. Designed by OddThemes