
Note: Semua yg tertulis disini hanyalah berdasarkan opini pribadi dan sangat subjektif dimana tidak semua orang bisa setuju. Tapi kalo ada kesalahan dibalik tulisan ini feel free to argue. Silahkan kalo mau suka atau tidak.
Gue mencoba peruntungan untuk membuat review segala macam dari film hingga album melalui platform ini. Kita mulai dari Captain Marvel dulu, film yg duluan tayang, sekaligus film pertama yg gue tonton. Seperti kebanyakan film-film Marvel lainnya pasti ada opening “flipbook” yg sangat ikonik itu. Namun yg berbeda adalah semua karakter superheronya diganti mendiang Stan Lee, dan tulisan “Marvel Stud10s” yg ada di Infinity War dan Ant-man and the Wasp udah gak ada. Terus ada tulisan “Thank you Stan!” di akhir. Dan film pun dimulai.
Gue gak akan berbicara banyak seputar cerita karena akan sangat spoiler dan akan membuyarkan mereka yg belum nonton karena apa yg di bayangan orang sama trailer tidak (begitu) sama dengan di film, dengan kata lain ada surprise. Alurnya sih agak beda dengan kebanyakan film MCU lainnya yg linear, terkadang ada flashback di beberapa tempat. Hanya saja agak membingungkan ketika momen si Vers lagi disekap kaum Skrulls dimana pas adegan itu gue berpikir “ini apaan ya” trus baru ngeh kalo kaum Skrulls lagi baca pikirannya doi.
Storywise, film ini kurang impresif di awal, CGInya kurang nampol, konfliknya datar-datar aja, ya B aja sih. Barulah ketika si Vers ke Planet C53 (alias Bumi) dan sadar kalo dia adalah manusia Bumi ceritanya jadi menarik, walaupun tetap aja datar, bahkan dengan twist yg gak kita duga-duga. Belum lagi kehadiran salah satu Infinity Stone yg membuat gue berpikir “kok bisa sampe kesini ya”, ternyata ada di serial tv apa gitu. Agak disayangkan juga. Belum lagi dengan kehadiran “Supreme Intelligence” yg agak membingungkan dimana dia selalu bertampilan “sesuai dengan orang yg kita cintai”. Kadang gue bingung yg mana si Supreme Intelligence dan yg mana si Dr Wendy Lawson yg pemerannya sama , tidak ada pembeda apa gitu. Gue yakin beberapa orang awam pasti merasakan yg sama. Belum lagi karakter Ronan sama Korath yg kurang dimaksimalin, paling gak dijelasin kenapa mereka jadi jahat di Guardians of the Galaxy gitu.
Tapi sisi yg membuat film ini standout jelas ada di soundtracknya. Karena film ini bersetting di 90s , tentu saja lagu-lagunya gak jauh dari era itu. Notice kalo kebanyakan soundtracknya bervokalis (atau semua personilnya) wanita dan bergenre alt rock, seakan memberikan kesan “girl power” ke film ini. Ada yg pas kayak lagunya No Doubt pas kelahi ada yg maksa kayak lagu Come as You Are. Terus film ini diakhiri dengan credit yg animasinya mungkin terinspirasi film Top Gun sama Armageddon deh, mungkin karena bersetting di 90an.
Overall, kalo menurut gue sih gue gak terlalu menikmati film ini, gak tau kenapa ya. Apa karena jeda antara film ini sama Ant-man and the Wasp yg kejauhan, faktor bioskop (gue nonton di CGV Teraskota), atau faktor-faktor lainnya. Padahal semua film MCU di Phase 3 ini keren-keren semua. Padahal hypenya lumayan gila-gilaan. Kayaknya mereka gak belajar dari kasus Black Panther yg hypenya dibuat bagus banget padahal pas ditonton cuma "bagus aja", sedangkan film ini overhype tapi pas ditonton b aja. Masalahnya lagi film ini diplot sebelum “hari raya” para fanboy Marvel, yaitu “Avengers Endgame”, yg berselang sebulanan dari film ini. Namun yg perlu diapresiasi adalah kenyataan bahwa film ini menjadi tonggak kemajuan film superhero wanita setelah Wonder Woman (dimana sebelumnya film solo superhero wanita seperti Catwoman dan Elektra kacrut parah). Tapi well done buat film ini.
Selanjutnya gue akan membahas Shazam, superhero yg dulunya disebut “Captain Marvel” sebelum superhero ini.

Posting Komentar